Teknopreneur.com – Kemunculan mobil listrik yang digadang-gadang sebagai cikal bakal transportasi massal membawa angin segar bagi dunia IPTEK. Universitas Lampung sebagai salah satu perguruan tinggi negeri mulai melirik pengembangan mobil hemat energi ini. Unila pernah mengadakan seminar mobil listrik yang menghadirkan Asisten Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Kemenristek, Bambang Sutedja. Perwakilan Kementerian Riset dan Teknologi ini menjelaskan keuntungan dan hambatan dalam pengembangan mobil listrik ini.  

Bambang mengungkapkan mobil listrik dapat menjadi alternatif sarana transportasi yang hemat energi dan ramah lingkungan. Namun, menurutnya kendala pengembangan mobil listrik ini terletak pada baterai. Ia menambahkan, Indonesia belum mampu menciptakan baterai mobil yang hemat dan tahan lama. Biaya untuk pembuatan baterai sendiri mencapai 40% dari total biaya produksi.

Pembicara kedua yang merupakan dosen Teknik Elektro Unila, Noer Sudjarwanto menjawab permasalahan yang disampaikan Bambang. Ia menuturkan bahwa sel surya dapat menjadi alternatif bahan penggerak mobil listrik. Selain lebih hemat, sel surya juga mudah dikembangkan.

Sel surya yang akan digunakan akan memanfaatkan cahaya matahari yang kemudian dikonversi sebagai cadangan energi pada baterai mobil. Bataerai mobil inilah yang selanjutnya digunakan untuk menggerakkan mobil listrik. Ia menambahkan, Jepang telah banyak mengembangkan berbagai jenis baterai untuk mobil listrik. Bahkan, Jepang telah mampu membuat stasiun pengisian baterai mobil listrik yang mampu mengisi penuh baterai hanya dalam waktu 5 menit saja. Ia berharap Indonesia mampu melakukan hal serupa.

Penggunaan sel surya sebagai alternatif baterai mobil listrik merupakan inovasi yang patut dikembangkan. Apabila sel surya dapat dikembangkan secara optimal, penggunaannya tentu akan sangat membantu. Selain ramah lingkungan, hanya produksi akan jauh lebih murah dari pada baterai lithium yang memang sangat mahal.