Teknopreneur.com – Siapa yang tak kenal dengan batik? Kain asli Indonesia ini telah mendunia dan sudah mendapatkan pengakuan dari UNESCO bahwa batik masuk ke dalam daftar representatif budaya tak berbenda warisan dunia.  Jadi wajar jika negara tetangga ada yang mengklaim bahwa batik adalah warisan nenek moyangnya.

Namun ternyata membuat batik tak sesimple mengenakannya harus menggunakan metode dan alat yang khusus.  Sehingga bisa mendapatkan batik kualitasnya bagus. Dulu sebelum terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak, para pengrajin batik menggunakan kompor minyak tanah untuk memanasi malam (lilin) batik agar cair.

Namun saat terjadi kelangkaan BBM, para pengrajin batik beralih menggunakan kompor listrik. Namun sayang kompor listrik yang beredar dipasaran banyak kekurangan. Ketika malam kompor dihidupkan kemudian malam mencair, energi yang dibutuhkan cukup besar sehingga malam cair yang berada dicanting sering menetes di kompor sehingga hasil pembatikan kurang bagus karena ‘lilin malam’ cepat menguap dan boros. Selain itu pemakaian arus yang meningkat bisa berbahaya bagi pembatik, karena bisa tersetrum arus listrik.

Sehingga dibutuhkan inovasi untuk mengatasi masalah tersebut. Auto Electric Stove for Batik “Astutik” misalnya. Karya mahasiswa Teknik UNY yang terdiri dari Andreas, EA Wijaya, Aris Setyawan, Rizki Hadi  dan Nova Supramanto ini berbeda dengan kompor batik listrik yang beredar dipasaran.  Astutik , berbasis Mikrokontroler ATMega  yang menggunakan teknologi PID controller sehingga bisa mengatur suhu pada malam batik.

Selain itu Astutik juga bisa mendeteksi jenis atau kriteria malam apa saja yang bisa digunakan pada saat mencapai suhu tertentu sehingga panas yang dihasikan tetap konsisten. Alhasil malam batik bisa menempel sempurna pada kain. Daya listrik yang digunakan pada astutik juga lebih rendah sehingga bisa hemat 5 kali dibandingkan dengan kompor listri biasa. Selain itu astutik juga lebih aman dan ramah lingkungan karena tidak membuat malam cair menetes di kompor.

Dari segi biaya juga Astutik patut diperhitungkan, jika menggunakan kompor minyak dan kompor listrik umummnya. Bagi pengguna minyak tanah bisa menghabiskan 1,5 liter/hari dengan harga Rp 7.000/liter, dan kompor listrik menggunakan daya 2,4 KWh sedangkan Astutik hanya menggunakan 0,2 KWh/hari. Selain efisien, Astutik juga sudah mendapatkan banyak penghargaan dan Hak Kekayaan Intelektual. Sehingga tak diragukan lagi teknologi. Jadi tak ada salahnya  para pembatik beralih ke Astutik.