Teknopreneur.com – Menurut Wakil Aspiluki Riyanto Gozhali, rata-rata pertumbuhan software di Indonesia 15% pertahun. IDC mencatat bahwa pada tahun 2010 ke 2011, pertumbuhan software di Indonesia mencapai 8%, tahun 2011 ke 2012 mencapai 9% dan 2012 ke 2013 mencapai 14%.

Dan Sekarang kebanyakan software tidak lagi dijual begitu tetapi dikemas dalam bentuk software layanan atau services. Di Indonesia angkanya baru mencapai 37%, sedangkan singapura 50% telah bertransformasi dan Malaysia justru sudah mencapai 65%. Nilai tersebut belum termasuk nilai software bajakan.

Untuk software yang paling diminati adalah software accounting tertinggi masih dipegang oleh sektor perbankan dan jasa keuangan, kemudian disusul oleh sektor pemerintahan,perdagangan dan perhotelan, software kesehatan, software transportasi dan yang terakhir software di bidang hukum dan forensik. Perusahaan di sektor bank dan jasa keuangan masih mendominasi belanja telematika D miliar atau sekitar 82,7 triliun. Selain kue yang besar software untuk perusahaan juga memilki kemungkinana kecil untuk dibajak.

Setelah lakukan survei secarak terhadap 18 perusahaan dari 108 perusahaan software di Indonesia, maka didapat kesimpulan rata-rata perusahaan software mendirikan perusahaan hanya dengan 2 -3 orang. Perusahaan software yang bertahan hingga mencapai tiga tahun atau startup rata-rata menyerap tenaga kerja 15-20.

Sedangkan untuk perusahaan midle atau berusia 3-10 tahun menyerap tenaga kerja 20-80, sedangkan untuk perusahaan lama menyerap tenaga kerja lebih dari 80 orang. Bahkan ada yang mencapai 1000 orang.  Untuk perusahaan startup rata-rata omzet perusahaan mencapai 1-5 miliar pertahun, sedangkan untuk perusahaan midle rata rata omzet mencapai 5-100 miliar pertahun. Sedangkan untuk perusahaan top rata omzet yang dicapai lebih dari 100 milar bahkan ada yang mencapai 1 juta dolar pertahun.