Teknopreneur.com- Perubahan teknologi di bidang pendidikan berputar sangat drastis sekali. Hal ini memberi pengaruh yang besar bagi penerbitan. Pengaruh negatif digitalisasi bagi penerbitan adalah konsentrasi pada penerbitan buku hard copy berkurang sangat signifikan. Sedangkan sisi positifnya adalah penerbit mau tak mau harus masuk ke konten digital, mengikuti kebutuhan ekosistem pendidikan.

“Buku memiliki masa pakai karena mudah sekali rusak, sedangkan e-book masa pakainya lebih lama,” ucap Rendra Tihastono, Marketing Manager PT. O-trans Media Edukasi.

Meski begitu, Ari menjelaskan bahwa buku cetak tetap memiliki penggemar sendiri, karena tak semua orang suka menggunakan buku digital, namun karena teknologi semakin canggih maka mau tak mau masyarakat harus mengikuti perkembangan zaman.

Berdasarkan data hasil riset Paguyuban Pengembang Software Edukasi Indonesia (PPSEI), pasar industri software edukasi di Indonesia masih terbuka lebar. Hal ini dikarenakan masih belum ada negara besar produsen software edukasi di tingkat global. “Belum ada perusahaan pengembang atau negara yang mendominasi di bidang software edukasi,” ujar Hary S Candra, dari PPSEI.

Ari Santoso, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan menguatkan bahwa saat ini Indonesia sedang mengembangkan pola untuk mengakomodasi masyarakat yang mobile. Menurutnya pengembang-pengembang software edukasi memiliki peluang yang sangat luas dalam bisnis ini.

“Kami sangat terbuka sekali kepada pihak-pihak pengembang, mereka tak lain juga pemain-pemain dari penerbitan. Akan tetapi yang kami cari adalah alternatif yang murah,” terang Ari.