Teknopreneur.com – Meski agak terlambat, Indonesia sudah mulai menggalakan kesadaran mengenai Hak Kekayaan Intelektual. Dibawah naungan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Dirjen HKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, pemerintah mulai mengkampanyekan kesadaran untuk mendaftarkan berbagai jenis HKI masyarakat.

Responnya ternyata cukup memuaskan. Dari data yang dirilis Dirjen HKI, jumlah pemohon HKI terutama kekayaan industrial mengalami tren kenaikan setiap tahun. Untuk merek dagang saja, pada 2011 terdapat 53196 permohonan dari sebelumnya hanya 47794 pada 2010. Sektor perdagangan masih mengungguli sektor jasa yang mencapai 41071 pemohon pada 2011.

Hal serupa juga terjadi pada permohonan paten yang diajukan masyarakat. Pada 2011 angka permohonan paten sebanyak 6130 dari tahun sebelumnya sebanyak 5830. Amerika masih menjadi negara dengan permohonan paten terbanyak. Diikuti kemudian oleh Jepang yang mencapai 1202 pada 2011.

Sementara untuk permohonan desain industri tahun 2011 mencapai 4196 dari hanya 4047 pada tahun 2010. Jepang menjadi negara dengan permohonan industri terbanyak yang mencapai 387 pada 2011. Dari sektor hak paten, permohonan pada tahun 2011 mencapai 5542. 

Sementara untuk pendaftaran indikasi geografis nampaknya masih sangat sedikit. Sampai tahun 2011 hanya 12 produk daerah asli Indonesia yang sudah terdaftar. Jika dibandingkan dengan kekayaan alam yang dimiliki, angka ini tentu minim.

Kini Hak Kekayaan Intelektual seolah menjadi kebutuhan, sehingga tepat di hari peringatan HKI yang jatuh pada 5 Mei 2014, Kemenhukham RI  menjadikan momen untuk mengoptimalisasikan pelaksanaan dan pemanfaatan sistem HKI di tanah air. Salah satunya memberikan Anugrah Nasional Hak Kekayaan Intelektual (HKI) tahun 2014 kepada Direktur Eksekutif CTech Laboratories Edwar Technology, Dr. Warsito Purwo Taruno M.Eng. Anugrah tersebut juga diberikan kepada para pelaku seni sinematografi, musisi, musisi legendaris, pelestari musik tradisional, inventor, pemilik merek bereputasi dan terpecaya, desainer serta duta HKI yang memang peduli HKI.

Dalam sambutannya, Warsito yang juga menjabat sebagai ketua umum Masyarakat Ilmuan dan Teknolog Indonesia (MITI), menyampaikan bahwa regulasi yang ada di Indonesia belum cukup kondusif untuk membuat hasil riset dan produk inovasi anak bangsa bisa diserap oleh pasar dalam negeri. Meski begitu ia berharap dengan adanya HKI maka karya-karya inovasi anak bangsa terlindungi dan bisa ikut berkompetisi pada pasar yang saat ini didominasi oleh produk-produk luar.