Teknopreneur.com – Seringkali para pembuat kebijakan mengabaikan gas rumah kaca hasil degradasi dan konversi hutan seperti Dinitrogen oksida (N2O) dan metana (CH4). Namun demikian, degradasi dan konversi hutan bertanggung jawab kurang lebih 12% total emisi gas rumah kaca. Kristell Hergoualc’h, peneliti di Center for International Forestry menyebutkan, meskipun gas-gas tersebut memiliki porsi mini dari total emisi gas rumah kaca dari deforestasi, N2O lebih efektif 300 kali menjebak panas di atmosfer jika dibandingkan dengan karbon dioksida dalam kurun waktu 100 tahun. Sedangkan, CH4 25 kali lebih efektif.

Lahan gambut dan bakau adalah faktor utama yang memegang peranan penting dalam pemanasan  global. Tanah berbakau menyimpan karbon hingga 4 kali lebih banyak dari pepohonan lain juga menyerap kadar emisi CH4 dan N2O.

Akurasi pemantauan dan pelaporan CO2 dan gas-gas rumah kaca lainnya penting bagi negara dalam menghadapi ancaman pemanasan global. Di Indonesia, 60% dari emisi gas rumah kaca nasional berasal dari perubahan tata guna lahan, sebagian dipicu oleh permintaan yang meningkat akan kelapa sawit dan tanaman pertanian. Lebih dari 60% dan 45% lahan gambut musnah untuk memenuhi permintaan ini.

Institut Teknologi Bandung turut aktif berpartisipasi menangani problema ini, Puji Lestari selaku ketua tim pembuat aplikasi pengendali emisi online yang dinamakan Harmonized Emission Analysis Tool Plus (Heat+)bersama dengan International Council for Local Environment Initiatives (ICLEI) Local Government for Sustainability dan tiga universitas dari Brasil, Afrika Selatan dan India.

Heat+ disiapkan untuk membantu pemerintah lokal di tiap negara dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, polusi dan gas hasil metabolisme senyawa organik. Perangkat lunak ini menjelaskan faktor-faktor emisi seperti spesifikasi negara, IPCC default, organisasi peneliti, U.S. Energy Information Administration (U.S. EIA) dan lain-lain. Di samping itu, piranti ramah lingkungan ini diciptakan dalam multi bahasa dan diutamakan bagi pengguna pemula sehingga kemungkinan kesulitan menggunakannya dapat teratasi.

“Tidak hanya diperuntukkan bagi pemerintah lokal, Heat+ dirancang bagi mereka perencana tata guna lahan, limbah, transportasi dan energi, komunitas peneliti, organisasi non pemerintahan, dan siapapun yang melakukan pemindahan data energi menjadi emisi terukur,” jelas Mary Jane Ortega, wakil presiden ICLEI.

Pengaplikasian Heat+ tergolong mudah, hanya melalui 7 pendekatan yang mendasar. Pertama, memasukan pemakaian data energi. Kedua, meninjau laporan emisi. Ketiga, memprediksi kadar emisi masa depan. Keempat, mengatur target pengurangan emisi. Kelima, merencanakan skema mitigasi emisi. Pendekatan keenam, memeriksa target penurunan kadar emisi. Terakhir adalah monitor implementasi setiap tahunnya.

Aplikasi  ini menghasilkan empat benefit diantaranya hemat biaya, mempertinggi kualitas udara, mitigasi pemanasan global, melindungi kesehatan masyarakat dan memonitor kemajuan.  Aplikasi ini juga berfungsi sebagai penghubung laporan Heat+ kepada carbonn Cities Climate Registry (cCCR).