Teknopreneur.com – Tingkat kemacetan lalu lintas menjadi momok buruk bagi tiap-tiap negara. Contohnya Ibukota Indonesia, berdasarkan survey Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta kemampuan menambah ruas jalan makin sulit dibandingkan penambahan kendaraan. Sepanjang jalan hanya bertambah kurang dari 1%, sedangkan penambahan kendaraan rata-rata 10-11% per tahun. Hingga tahun 2008 ini saja terdapat 445.644 unit kendaraan pribadi. Belum lagi kendaraan pribadi milik para kaum komuter yang setiap hari menjejali jalanan Jakarta. Sementara itu panjang jalanan yang ada di Jakarta hanya 7.651 km.

Lain halnya dengan kota yang satu ini, Seoul merupakan Ibukota Korea Selatan sudah menerapkan kota pintar dan ramah terhadap masyarakat. Kim Gunso, kepala Kantor Informasi Seoul dan Sekjen World e-Governements Organiation of Cities and Local Governements (WeGO), mimpi nyata Seoul adalah “Seoul, a Clean Attractive Global City.” Hal yang dilakukan Seoul pertama kali adalah perubahan besar-besaran sistem transportasi umum. Pemerintah Seoul membuat kebijakan dengan sistem operasi semi publik, yaitu regulasi tarif dan perancangan rute bus.

Pengaturan tarif transportasi umum diharapkan dapat membantu para pengusaha angkutan dalam menerapkan tarif, mereka mempunyai wewenang untuk memberi tarif dan pemerintah mengambil alih subsidi tarif sehingga terjadi timbal balik yang menguntungkan antara pengguna dan pemilik transportasi khususnya bus. Perancangan rute bus baru dan efisien baik dalam hal materi maupun waktu sehingga kebijakan ini dapat mencegah rute ilegal. Terlebih lagi, terdapat penambahan sistem rute untuk pasca tengah malam.

Rute-rute yang terdapat di Seoul sudah diatur dengan sedemikian rupa baik dari bus ke bus, bus ke kereta bawah tanah, dan atau kereta bawah tanah ke kereta bawah tanah dengan sistem tarif jarak yang terintegrasi. Selain itu terdapat kartu pintar yang dapat digunakan untuk bus ataupun  kereta bawah tanah. Seoul merancang BMS (The Bus Management System) dan TOPIS (The Transport Operation and Information Service). BMS dirancang dengan aplikasi TIK yang modern guna membantu manajemen waktu transportasi umum, sedangkan TOPIS sebagai pusat informasi untuk memonitori kondisi lalu lintas dan sistem kartu transportasi.

Hal kedua yang dilakukan pemerintah Seoul adalah peningkatan infrastruktur transportasi ke arah ramah dan efisien. Seoul membangun sistem BRT (Bus Rapid Transit) yang menjangkau wilayah luar Seoul. Jalur bus sepanjang 23,1 km menghubungkan distrik Cheongna di Songdo, Incheon, dan jalur sepanjang 10,5 km menghubungkan Hanam di provinsi Gyeonggi dan distrik Gangdong di Seoul. Jalur bus cepat dan nyaman serta terkoneksi dengan baik berkontribusi dalam mengurangi kemacetan di ibukota.

Di samping itu, dibuat pula tiga jenis bus untuk memberikan kenyamanan maksimal dan ramah lingkungan bagi penumpang. Pertama, bus dengan lantai rendah untuk membantu orang-orang difabel, kedua bus gabungan dan bus ramah lingkungan (CNG), ketiga bus ini dilengkapi sistem ramah lingkungan dengan mengatur sistem penggunaan bahan bakar sehingga mencegah pemborosan dan screen door yang berfungsi menyaring polusi dan kebisingan. Model transportasi ini diterapkan pula di metro. Tidak hanya di bus saja, di tempat pemberhentian diinstal TIK seperti sistem pemanas dan pendingin otomatis dan informasi berhubungan dengan lalu lintas dan sosial masyarakat seperti pekerjaan dan petunjuk tempat pelayanan umum untuk perempuan dan anak-anak.

Hal terakhir, Pemerintah Seoul memiliki pusat informasi yang bernama 120 Dasan Call Center, sebagai tempat informasi serta keluhan masyarakat baik lokal maupun internasional yang sedang berkunjung ke negara tersebut.