Teknopreneur.com ā€“  Kekayaan alam di Indonesia tak patut diragukan lagi, banyak negara luar tak segan-segan menjadi investor di sini. Namun Indonesia seolah tak sadar, kekayaan alam yang ada justru dibiarkan sehingga wajar jika Indonesia memiliki banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Misalnya saja ketersediaan air bersih yang minim, fasilitas sanitasi yang belum memadai, ketidakmampuan pelabuhan udara dalam mengantisipasi jumlah penerbangan yang terus meningkat.

Dan pekerjaan rumah yang paling penting yang harus dikerjakan Indonesia kekurangan cadangan energi, padahal Indonesia saat ini sangat membutuhkan daya penghasil energi seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri.  Setiap tahunnya kebutuhan total energi Indonesia meningkat sebanyak 7% dan diperkirakan kebutuhan total energi Indonesia pada tahun 2030 akan mencapai 750 juta ton minyak.

Hingga saat ini kebutuhan energi di Indonesia sebagian besar masih disuplai oleh minyak dan cadangan batu bara hingga 43% dan 34,5% kebutuhan energi nasional. Permasalahan ketiga adalah industri yang terus tumbuh sehingga jika tidak diolah dengan tepat dapat memberikan ancaman yang serius bagi lingkungan misalnya polusi udara.

Selain itu ruas jalan penghubung antar kota, minimnya jumlah pelabuhan samudra juga  ketidakmampuan pelabuhan udara dalam mengantisipasi jumlah penerbangan yang terus meningkat.  Ketersedian air minum yang minim dan fasilitas sanitasi baik di kota besar dan kabupaten desa saat ini masih merupakan satu hal yang penting yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintahan pusat maupun daerah. Indonesia pun hingga saat ini masih mengalami defisit ketersediaan listrik dikarenakan proyek nasional 2X10,000 MW belum tercapai.

Kompleksitas masalah inilah yang akhirnya menjadi hambatan utama pertumbuhan ekonomi dalam negeri tidak maksimal. Akibatnya percepatan pembangunan infrastruktur tidak berjalan dengan semestinya. Padahal infrastruktur menjadi syarat bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial.  Dengan meningkatnya insfrastruktur sebesar satu persen saja ternyata mampi mendorong peningkatan PDB sebesar satu persen.

Misalnya saja di sektor pangan,infrastruktur penghubung antar desa atau kabupaten yang merupakan aspek penting dalam meningkatkan daya saing global dan produktivitas industi dalam menghasilkan produk-produk yang berkualitas tinggi sehingga pada akhirnya dapat menekan nilai ketergantungan impor nasional dan di saat yang sama memperkokoh ketahanan struktur ekonomi Indonesia. Dan ini hanya bisa tercapai jika kita mempunyai infrastruktur yang layak dan terintegrasi dengan baik.

Yang harus dicatat percepatan infrastruktur juga harus mengedapankan aspek yang ramah lingkungan karena jika tidak ditangani dengan baik akan berdampak langsung  kepada pertumbuhan usaha yang berkelanjutan serta kelestarian lingkungan hidup.  Untuk menangani permasalahan tersebut maka IHI, perusahaan teknologi terbesar di Jepang pada acara Indonesia Green Infrastructure Summsit (IGIS) (29/4)  menawarkan infrastuktur energi yang ramah lingkungan yakni teknologi boiler batu bara yang efisien dan mampu memberikan hasil dengan emisi gas CO2 yang lebih rendah serta pemanfaatan hasil sumber daya alam dengan lebih baik lagi.

Teknologi pembakaran boiler ini mampu mendisversikan sumber daya alam seperti batu bara,minyak, gas alam, petroeleum, sisa minyak,sisa organis dan biomassa. Selain itu teknologi pengatur udara yang dimiliki IHI mampu mengurangi emisi gas dan telah terbukti mampu membantu industri yang menjadi pembeli utama, untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan pasar sebagai pembangkit tenaga saat ini.