Teknopreneur.com – Kehadiran mobil listrik sebagai alternatif transportasi baru di Indonesia menjadi angin segar di dunia IPTEK. Institut Teeknologi sepuluh November telah melakukan uji coba mobil listrik pada (2-6/5). Uji coba yang dikemas dalam agenda Tour De Java ini mengambil rute Jakarta-Yogyakarta.

Tak hanya ITS, Universitas Lampung juga mulai melirik pengembangan mobil listrik. Langkah awal pengembangan ini dengan mengadakan seminar mobil listrik yang diadakan di Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung pada Rabu (30/4). Seminar yang mendatangkan perwakilan Kementerian Riset dan Teknologi ini mendapat sambutan dari mahasiswa dan dosen yang tertarik mengetahui pemaparan seputar mobil listrik. Dekan fakultas Teknik Unila, Prof. Suharno juga turut hadir dan membuka acara tersebut. Menurutnya, acara ini sebagai cikal bakal kerjasama antara Fakultas Teknik Unila dan Kemenristek dalam pengembangan mobil listrik.

Asisten Deputi Bidang relevansi dan Produktivitas IPTEK, Bambang Suteja yang hadir sebagai pembicara menjelaskan, Indonesia tengah mengembangkan mobil listrik sebagai sarana transportasi massal. Menurutnya, mobil listrik mampu menjawab permasalahan kekurangan BBM dan masalah polusi udara yang muncul akibat transportasi umum yang ada selama ini. Kemenristek yang bekerjasama dengan LIPI dan berbagai universitas negeri di Indonesia terus mengembangkan dan meyempurnakan mobil listrik.

Namun, pengembangan mobil listrik ini masih mengalami kendala dalam pengembangan baterai. Dalam mobil listrik, baterai menjadi komponen penting kesempurnaan saran transportasi ini. Mobil listrik yang baik ditentukan dari seberapa lama baterai dapat bertahan dan seberapa jauh jarak yang dapat ditempuh. Untuk menghasilkan baterai yang mampu bertahan lama, biaya yang dibutuhkan masih cukup mahal. Menurutnya, 40% dari keseluruhan total biaya pembuatan mobil listrik masih terserap untuk pembuatan baterai.

Bambang menambahkan, Kemenristek tengah melakukan penelitian untuk menghasilkan baterai lithium yang tahan lama untuk mobil listrik. Sampai saat ini, pengembangan baterai ini masih dalam tahap penyempurnaan bersama LIPI. Ia berharap, universitas mampu berpartisipasi untuk membantu mengembangkan baterai hemat energi dan tahan lama.

Permasalahan lainnya yang harus dijawab dalam pengembangan mobil listrik sebagai sarana transportasi adalah penyediaan stasiun pengisian energi. Bambang menjelaskan, Jepang telah mampu membuat stasiun pengisian baterai mobil listrik yang hanya memakan waktu 5 menit untuk mengisi baterai. Jepang juga telah mengajak Indonesia untuk bekerjasama.

Bambang mengatakan Indonesia masih berharap generasi muda dapat menjawab tantangan membuat baterai hemat energi ini. Kemenristek belum mau menggunakan jasa Jepang karena masih menunggu karya mahasiswa dalam membuat baterai hemat energi untuk mobil listrik.