Teknopreneur.com – Indonesia adalah negara kepulauan, dengan 17 ribu pulau di dalamnya. Pelayanan kesehatan yang maksimal menjadi tantangan yang harus diselesaikan. Penyebaran tenaga-tenaga kesehatan di Indonesia belum merata, tenaga spesialis tak sampai ke daerah-daerah terpencil.  Hal ini menyebabkan seringkali pengambilan keputusan menjadi terlambat, karena ketidaktahuan tenaga-tenaga kesehatan di desa.

“Spesialis-spesialis banyak numpuk di kota-kota besar,” ucap Oscar Primadi, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Kementerian Kesehatan mulai mengerakkan program telemedicine sebagai solusi memberikan layanan kesehatan yang lebih baik di daerah-daerah terpencil. Saat ini, dari sekitar 2000 Rumah Sakit Swasta dan Negeri, 740 Rumah Sakit sudah memiliki Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), dan 82% Rumah Sakit di Kabupaten Kota Pemerintah  terhubung dengan internet.

Telemedicine sudah berjalan  sejak tahun 2012 dalam sebuah pilot project bidang teleradiologi yang diuji cobakan di 10 fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu contohnya di RSUPN Cipto Mangunkusumo telah dilakukan teleradiologi menggunakan satu pengampu dengan saluran komunikasi menggunakan internet.

Sistem Teleradiologi ini dilakukan melalui pengiriman image, hasil pemeriksaan di daerah yang kemudian dikirim ke server pusat di Kementrian Kesehatan, dilanjutkan  ke Rumah Sakit rujukan di jakarta untuk  membaca pemeriksaan tersebut.

Di tahun 2014, Kementerian Kesehatan akan memfasilitasi pelayanan teleradiologi nasional dengan menyediakan aplikasi dan pusat data yang terpusat di Kementerian Kesehatan, serta penguatan saluran komunikasi dengan dukungan saluran intranet (VPN) SIKNAS ke RS yang memberikan layanan telemedicine. Dengan sistem ini, pelayanan teleradiologi dapat memperluas jangkauan atau jejaring pelayanan secara terintegrasi dan memudahkan dalam pelaksanaan evaluasi dan pengawasan pelayanan teleradiologi.

Selain pelaksanaan telekardiologi, Kementerian Kesehatan juga sedang mencanangkan pengaplikasian telecardiologi. Sistem ini akan mengirim pulse via sinyal telpon. Oscar mengaku pengaplikasian telekardiologi memiliki beberapa hambatan dalam pengaksesan data yaitu stabilitas jaringan, cakupan koneksi 3G yang belum merata sehingga menghambat pengiriman sinyal secara real time.

“Telekardiologi lebih sulit diaplikasikan  karena data yang dikirim bukan image, melainkan pulse. Dukungan infrastruktur di daerah terpencil masih menjadi perhatian kita bersama,” tambah Oscar.