Teknopreneur.com – Proses kerja alat pengatur kereta api otomatis ini dimulai dari input pada sensor. Input ini merupakan data yang didapat sensor jika ada benda asing yang berada diatas rel maka input diteruskan ke LM339 untuk memproses perintah yang kemudian akan dihadapkan dengan beban (resistor) dan diteruskan ke microcontroller Attiny yang telah diprogram untuk mengendalikan sistem otomasi.

Setelah melewati microcontroller attiny, perintah untuk mengerem kereta api kemudian diteruskan ke dioda. Dalam diode ini, arus yang mengalir diubah dari DC (arus bolal-balik) menjadi arus searah atau AC. Perintah ini kemudian diteruskan relay sebagai power. Pada saat relay dalam kondisi hidup maka akan mengalirkan tegangan sebesar 1,5V AC yang akan menyebabkan motor dinamo berputar dan menghasilkan output berupa perintah pengereman.

Selain adanya proses otomasi pada kereta api, ada juga proses otomasi pada palang pintu yang telah dipasang sensor posisi (micro servo) yang akan memerintahkan palang pintu untuk menutup dan membuka secara otomatis. Mekanisme membuka dan menutupnya palang pintu ini diatur sinyal yang terpasang pada kereta api mainan, dan phototransistor pada gerbang.

Ketika kereta api idijalankan, kereta akan melewati gerbang, dan actuator akan mengirimkan sinyal pada phototransistor lalu diteruskan pada sensor posisi atau microservo yang ada pada palang pintu agar membuka. Dan ketika kereta api sudah melewati depan palang pintu maka palang pintu tersebut akan membuka kembali secara otomatis.

Di antara proses membuka dan menutupnya palang pintu ini, terdapat jeda selama 9000 detik waktu untuk kereta melewati palang pintu. Lama waktu jeda ini dapat disesuaikan berdasarkan lama waktu kereta api bergerak di depan palang pintu, melalui program yang sebelumnya sudah ditambahkan pada sensor.

Setelah tahap pembuatan hardware selesai, dilanjutkan dengan pembuatan perangkat lunak atau software. Pembuatan software ini meliputi pemograman yang diinput ke dalam sensor. Termasuk di dalamnya kecepatan kereta api mainan, jarak aman pengereman kereta api dan waktu delay palang pintu.

Proses pengujian untuk kereta api mainan ini sudah selesai dan dinyatakan berhasil oleh Martinus, dosen pembimbing Ari Beni Santoso. Menurutnya, jika sistem otomasi ini diterapkan pada kereta api sebenarnya akan sangat membantu kerja pada operator kereta api. Selain itu, tingkat kecelakaan juga dapat diminimalisir karena semua otomatis. Meskipun begitu kereta api tetap membutuhkan seorang masinis untuk melakukan operasi awal. Namun tak sebanyak biasanyanya sehingga alokasi dana bisa dialihkan untuk proses produksi.

Ia berharap Unila dapat menempatkan diri dalam perkembangan teknologi sehingga bisa berkontribusi secara maksmimal di masyarakat sebagai contoh penemuan miniatur kereta api yang bisa berkerja secara otomatis yang bisa diterapkan pada kereta api sesungguhnya. Sehingga dapat mengurangi tingkat kecelakaan di Indonesia.