Teknopreneur.com – Penelitian Sutikno mengacu pada pengolahan limbah padat menjadi bioetanol generasi kedua. Menurutnya, ada empat tahapan utama pembentukan bioetanol ini. Langkah pertama, limbah padat perlu direaksikan dengan larutan NaOH 0,1 Molar. Reaksi ini dilakukan pada suhu 1210C selama 15 menit agar mendapatkan hasil optimal. Langkah ini dilakukan untuk menghilangkan zat Lignin yang tidak diperlukan. Zat ini dapat menghambat pemecahan unsur selulosa dan hemiselulosa pada proses berikutnya jika terus ada pada limbah padat.

Setelah dihasilkan bahan yang mengandung selulosa dan hemiselulosa, kedua unsur tersebut harus melewati reaksi pemecahan zat menjadi gula sederhana. Reaksi ini dikenal dengan reaksi hidrolisis yang menghasilkan glukosa. Reaksi memerlukan bantuan enzim agar diperoleh glukosa yang berkualitas. Usai proses hidrolisis, glukosa yang dihasilkan akan difermentasikan dengan menambahkan senyawa mikroba yang disebut yeastatau dikenal sebagai ragi. Proses ini membutuhkan waktusekitar 3-4 hari.

Tahap paling akhir proses ini adalah penyulingan untuk mendapatkan etanol murni yang akan digunakan sebagai bioetanol. Nantinya, bioetanol yang dihasilkan setelah proses penyulingan langsung dapat dimanfaatkan sebagai bensin. Namun penelitian Sutikno perlu dilanjutkan karena baru sampai pada tahap hidrolisis. Penelitian yang sudah berlangsung sejak 2009 ini menghabiskan dana 330 juta rupiah.

Ia mengakui, keterbatasan alat laboratorium dan kesulitan mendapatkan enzin untuk proses fermentasi menjadi hambatannya. Enzim selulase yang dibutuhkan dalam penelitian ini harus mengimpor langsung dari Cina. Sutikno berharap, nantinya hasil penelitian ini  mampu memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama masyarakat pedesaan yang tidak terjangkau pendistribusian BBM. Masyarakat pedesaan diharap mampu melakukan fermentasi limbah padat dari kebunnya sendiri untuk mendapatkan BBM (bensin). Itulah salah satu impian besar Sutikno.