Teknopreneur.com – Tahun 2014 Indonesia sudah cukup matang menuju gerbang  negara berinovasi. Kementerian kesehatan tahun 2014 sedang membuat rancangan kebijakan tentang e-Health bagi pelayanan kesehatan terintegrasi berbasis TIK dari puskesmas hingga rumah sakit. Pada roadmap-nya, e-Health di puskesmas telah mencapai 20% dan rumah sakit mencapai 23% sehingga diharapkan pada tahun 2019 pencapaian puskesmas dan rumah sakit meningkat hingga 100%.

Pada tahun 2014 ini, Kementerian Kesehatan merancang kebijakan e-Health yang terbagi atas dua sasaran terhadap tempat pelayanan kesehatan yang saling terpadu dan terintegrasi. Pertama, di Puskesmas, antara lain pemenuhan daya listrik selama 24 jam berjumlah 87.4 %, 17.1 % fasilitas internet, 15 % puskesmas memiliki sistem informasi dengan LAN, dan tersedianya aplikasi penyederhanaan laporan dengan Komunikasi Data dan SIKDA Generik.

Di samping itu, sasaran kedua yaitu fokus e-Health di rumah sakit diantaranya, 740 rumah sakit di Indonesia telah menggunakan aplikasi SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) selanjutnya Kementerian Kesehatan sedang mengembangkan SIMRS GOS (Generik Open Source), 1227 rumah sakit telah memiliki aplikasi INA CBG, 82 % rumah sakit telah memenuhi layanan internet dan pengadaan telemedicine, telecardiology dan teleconsultation bahkan beberapa rumah sakit telah dipilih sebagai pilot project ketiga rancangan e-Health tersebut seperti RSUD Cawang.

Seperti yang dituturkan ketua pelaksana Detiknas, Ilham Habibie, manfaat dari teleconsultation sangatlah vital terutama untuk ibu hamil, pengambilan keputusan tidak lagi lambat sehingga ke depannya resiko kematian ibu hamil dapat ditanggulangi.