Teknopreneur.com – Kesenjangan pendidikan di Indonesia kian terasa saat teknologi internet masuk. Jakarta misalnya, teknologi internet sudah menjadi makanan sehari-hari bagi siswa-siswanya.

Sebut saja Madrasah di Techonatura yang siswanya Aliyah sudah membuat software edukasi untuk adik kelasnya yang duduk di Madrasah Ibtidaiyah. Amat kontras dengan sekolah yang ada di SD Negeri 2 Kebun Teluk Dalam Pulau Bawean atau SMA Negeri 1 Bengkunat yang jangankan internet listrik saja belum masuk kesana. Wajar jika siswanya gagap teknologi.

Hal itu pun diakui oleh Ari Santoso, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekom), menurutnya kesenjangan terjadi karena ada masalah dalam regulasi dan infrastrukturnya. Berdasarkan sumber Dapodik 2012 dan data Jardiknas 2013, dari 244.369 sekolah, 37,71% sekolah yang baru masuk internet sedangkan 33,6%  belum masuk internet dan 28,70% belum terdeteksi apakah ada atau tidak data internet.

Untuk mengatasi persoalan tersebut maka Pustekom membangun integrasi system. “Kita akan membuat open standar, open sistem, open konten, tidak ada yang melarang siapa yang mau membangun konten jadi silakan siapa saja boleh membangun bisa digunakan bersama-sama,”katanya.

E-learning yang terdapat pada pustekom dan kementerian di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 pustekom akan dilebur. Dan kualitas konten akan ditingkatkan dengan menghitung berapa jumlah orang yang mengakses, berapa jumlah guru yang sudah menggunakan konten, berapa banyak daerah yang sudah tersebar.  Regulasi pun sedang dalam proses pembuatan. Dengan begitu akan meminimalisir terjadinya kesenjangan di dunia pendidikan.