Teknopreneur.com – Krisis air kini kerap mendera masyarakat suatu negara, terlebih bila memasuki musim kemarau. Bukan hanya di Indonesia, sumber air bersih semakin menipis dengan adanya konversi lahan basah menjadi pemukiman. Perkembangan industri juga turut memberi efek seperti dampak pencemaran. Menyadari ancaman kelangkaan air bersih yang semakin serius, banyak negara menyadari bahwa sumber air tradisional tidak mungkin lagi dapat diandalkan terus-menerus. Karena kesadaran itulah, salah satu langkah yang terus dikembangkan dewasa ini adalah pengolahan air laut.

Disamping jumlahnya yang tidak terbatas, air laut juga masih dianggap bebas dari pencemaran sehingga air tawar yang dihasilkan aman untuk digunakan. Untuk tujuan tersebut, berbagai metode penyisihan garam (desalinasi) terus dikembangkan. Namun faktor mahalnya biaya teknologi yang mesti dikeluarkan seperti harga membran (alat penyaring) yang tinggi serta tingginya kadar garam (salinitas) air laut menjadi kendala tersendiri. Penggunaan membran hanya diterapkan di negara-negara maju. Sementara untuk negara berkembang teknologi ini belum terjangkau.

Hal inilah yang kemudian memicu Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unila, Washington Simanjuntak dan rekannya Kasimah Pandiuhan melakukan penelitian selama hampir tiga tahun. Mereka dibantu beberapa mahasiswa bimbingannya. Penelitian ini memilih air payau sebagai objek penelitian yang memiliki kadar garam rendah dibanding ar laut. Air payau merupakan alternatif yang potensil perolehan air dari sumber non tradisional. Air payau bisa didapati dalam jumlah tak terbatas di daerah pantai dan pada dasarnya masih bebas dari pencemaran.

Kadar garam yang lebih rendah memungkinkan dilakukannya proses desalinasi dengan metode yang lebih sederhana dan murah. Kendalanya adalah kandungan bahan organik, yang secara umum dikenal sebagai natural organic matter (NOM), yang menjadi penghalang desalinasi secara langsung. Untuk mengolah pengolahan air payau menjadi air bersih, dua komponen utama dalam air payau menjadi dasar pengembangan metode pengolahan. Strategi dasar yang digunakan adalah penyisihan bahan organik terlebih dahulu yang dilanjutkan dengan penyisihan garam (desalinasi).

Sumber : teknokra.com