Teknopreneur.com – Inovasi yang Ageng ciptakan ini cukup sederhana. Alat ini mempunyai dua bagian. Bagian pertama disebut sebagai head pad. Alat ini terbuat dari kain yang panjang dan lebarnya 25 cm serta memiliki ketebalan 3 mm. Alat ini diletakkan pada area tempat sujud layaknya sajadah. Namun, hanya bagian wajah saja yang akan meyentuhnya saat digunakan. Saat seseorang sujud, dahi akan mengenai sensor yang terdapat pada head pad. Sensor tersebut selanjutnya diteruskan oleh kabel menuju mesin ABS.

Mesin ABS berbentuk balok dengan panjang 13 cm dan tingginya 6 cm. Lebar mesin ini sendiri hanya 3 cm. Mesin ABS memiliki layar yang akan menunjukan angka berdasarkan sensor yang telah diterima saat seseorang bersujud. Dengan demikian, jumlah rakaat, jumlah sujud, atau total rakaat shalat akan dapat dihitung secara tepat.

Uniknya, alat ini dapat digunakan dalam shalat apapun. Alat ini menyediakan tombol yang dapat digunakan untuk mengatur jumlah rakaat shalat. Seseorang dapat menggeser tombol kearah angka dua jika akan melaksanakan shalat subuh. Tombol tersebut dapat diubah sesuai rakaat shalat yang akan dilaksanakan. Selanjutnya, tinggal menekan tombol preset agar mesin ABS dapat mulai menghitung.

Ageng mengaku tak mengalami kesulitan yang berarti selama proses pembuatannya. Selain karena sesuai dengan bidangnya, bahan baku yang digunakan juga mudah diperoleh. Menurutnya, selain digunakan sendiri, ABS sempat dipesan oleh pengusaha asal bandung. Namun baru di pakai beberapa kali pemesan sudah sembuh dan tidak pelupa lagi. “Ya, mungkin mindset ya, baru beberapa kali di pakai sudah gak pelupa lagi,” cerita ageng tentang pengalaman salah seorang pengguna ABS.

Ageng berharap temuannya ini dapat diproduksi secara masal dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain karena manfaatnya, dana yang dikeluarkan untuk biaya produksi juga bisa lebih murah. “Jika diproduksi satuan dana yang diperlukan bisa mencapai lima ratus ribu. Namun, jika diproduksi secara masal biaya produksi dapat ditekan sampai dengan empat ratus ribu,” ujarnya. Dengan memproduksi secara massal, modal yang dibutuhkan hanya seratus lima puluh ribu rupiah per unitnya.