Teknopreneur.com – Pulau Pasaran yang kini sudah masuk ke dalam kecamatan Teluk Betung Timur, merupakan sentra industri pengeringan berbagai hasil laut.  Ratusan ton ikan segar yang dijemur secara tradisional di bawah terik matahari merupakan pemandangan khas daerah ini. Tak hanya itu, negara tetangga pun ikut mampir untuk melihat dan memesan langsung hasil pengeringan berbagai olahan laut masyarakat.

Daerah ini juga pernah didatangi oleh konsumen dari negara tetangga untuk membeli langsung macam-macam olahan pengeringan ikan segar.  Tetapi calon konsumen itu gagal membeli lantaran menganggap hasil produk olahan di Pulau Pasaran tidak higienis. Melihat hal tersebut, M.Irsyad dosen matematika teknik dan perpindahan panas, Teknik Mesin mempunyai ide untuk menciptakan alat pengering ikan bagi masyarakat Pulau Pasaran.

Melalui ide dari dosennya, enam orang mahasiswa fakultas teknik merancang alat pengering ikan asin dengan menggunakan teknologi system hybrid. Alat ini  merupakan alat yang diciptakan dengan menggunakan dua sumber tenaga, yaitu dari kolektor surya dan reaktor uap panas. 

Tujuannya alat ini adalah untuk membantu masyarakat  yang memiliki usaha pengolahan ikan. Alat ini dapat lebih efektif melakukan proses pengeringan. “Adanya inovasi ini diharapan dapat meningkatkan kualitas hasil olahan ekspor menjadi lebih higienis dengan warna yang lebih alami,” ujar Andreassa salah seorang anggota tim.

Tim yang membantu pengerjaan alat ini diketuai oleh  Rizal Ahmad Fedil .Lima orang anggota lainnya yaitu, Andreassa, Iqbal, (S1 Teknik Mesin ’09) dan Mifta, Mihdad, serta Jono (D3 Teknik Mesin ’11).  Pembuatan alat ini memakan waktu 50 hari. Selama proses pembuatan, tiga orang anggota berperan mengkonsep alat. Sementara, tiga anggota lainnya melakukan kerja teknis.

Penelitian yang Rizal dan timnya lakukan terbukti efektif mampu mempercepat waktu pengeringan ikan. Dengan demikian, alat ini dapat dipergunakan bagi nelayan yang ada di daerah lainnya.