Teknopreneur.com – Pengering ikan system hybrid ini terdiri dari beberapa komponen seperti, kolektor surya, ruang pengering, dan blower. Penggunaan blower bertujuan untuk membantu sirkulasi udara didalam ruang pengering. Selain itu, komponen radiator uap panas juga terdapat dalam alat ini.  Penggunaan radiator ini untuk mengantisipasi kekurangan panas saat matahari tertutup awan mendung atau saat hujan turun. Nantinya, radiator ini yang menjadi sumber tenaga utama pada kolektor surya.  Radiator ini dijalankan dengan  uap panas hasil rebusan air yang dimasak dengan menggunakan kayu bakar ataupun gas.

Andreassa mengakui dalam prosesnya memang terdapat kendala yang menjadi fokus perhatian mereka, yaitu masalah sumber pengapian.  Pengujian pertama yang dilakukan menggunakan kayu bakar, ternyata tidak dapat menghasilkan panas yang optimal.  Hingga akhirnya dilakukan pengujian dengan bahan bakar gas dan nyatanya, panas yang dihasilkan memang sesuai dengan harapan. Namun, biaya yang dibutuhkan memakan rupiah yang jauh lebih tinggi. 

Beberapa kelebihan yang dimiliki alat ini  diantaranya dapat mengoptimalkan efisensi waktu dan hasil produksi yang lebih baik. Waktu pengeringan yang dibutuhkan sangat singkat karena hanya dengan 4 jam ikan dapat langsung kering. Selain itu, jika dibandingkan, panas yang dihasilkan oleh kolektor surya hanya 59o C. Tetapi, jika menggunakan dua sumber tenaga maka suhunya akan mencapai 60o-70o C.

Untuk membuat satu alat pengering, bahan yang dibutuhkan diantaranya kayu, tripleks sepanjang 15 meter, plat alumunium sepanjang 20 meter,kaleng lem aibon sebanayk 10 buah, paku, kaca, besi menara untuk blower, radiator, fan, dan kolektor surya, Nantinya, bahan tersebut dirancang untuk membuat alat berbentuk bersegi panjang berukuran 4 meter dengan luas ruang pengering  2×2 meter.

Ada beberapa tahap pembuatan alat ini, Pertama,  membuat kerangka ruang pengering menggunakan kayu berukuran 2×2 m terlebih dahulu. Kemudian, rangka dilapisi dan ditutup menggunakan tripleks.  Setelah itu, lapisan tripleks tersebut diisi dengan sekam dengan ketebalan sekitar 10 cm. Kemudian, alat masih harus dilapisi lagi dengan tripleks dan plat alumunium di dalam dan di luar ruang pengering untuk menghindari panas keluar. Kedua, membuat saluran untuk menghubungkan radiator dan blower. Di dalam saluran tersebut dipasang alat bernama fan terlebih dahulu. 

Ketiga, pemasangan kolektor surya yang diletakkan di atas ruang pengering. Keempat, dilakukan penyambungan saluran dari kolektor surya ke dalam ruang pengering. Kelima, pemasangan blower untuk menjaga suhu agar tetap stabil dan menjaga sirkulasi udara dalam ruang pengering. Terakhir, meletakkan rak di dalam ruang pengering yang terbuat dari kayu dan jaring-jaring alumunium agar terhindar dari karat. Inovasi ini mendapat apresiasi yang sangat baik dari masyarakat pulau pasaran. Masyarakat sangat kagum dan antusias mengetahui telah diciptakannya alat yang akan membawa banyak perubahan pada industri pengeringan olahan laut mereka.