Agar Malin Kundang Lebih Tenar Dari Doraemon

41

Teknopreneur.com – “Membuat animasi bagus di Indonesia itu tak bisa sim salabim. Harus ada prosesnya, bagaimana mau menilai kualitasnya bagus atau tidak jika animasi yang ditampilkan di TV Indonesia tak ada,”ujar Prof. Ir. Zainal Arifin Hasibuan, MLS., Ph.D, mantan wakil Ketua Pelaksana Harian Dewan TIK nasional.

Hal yang paling menghambat animasi ini berkembang adalah mata rantai ayam dan telur di industri ini. Industri kita membutuhkan animasi yang siap pakai, sedangkan pelaku animasi sendiri menginginkan uang sebagai modal awal mereka membuat animasi. Industri tak mau, mereka inginnya yang siap pakai. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, mereka ambilah industri yang siap pakai dari luar negeri.

Akibatnya animasi luar negeri lebih tenar dibandingkan dengan animasi buatan sendiri. Lihat saja  doraemon,shinchan Upin Ipin dan lainnya. Sehingga anak-anak Indonesia tak mengenal budayanya sendiri, malin kundang sudah terlupakan. Padahal legenda malin kundang lebih punya makna pembelajaran dibandingkan dengan film doraemon.

Menurut dosen Fakultas Ilmu Komputer ini harus segera adanya upaya pemutusan mata rantai ayam dan telur, harus segera distop pembelian animasi dari luar negeri. Semua harus berperan disini tak hanya pemerintah, industri dan akademisi juga harus terlibat disini. Pemerintah harus bisa menarik investor agar mau menanamkan sahamnya di animasi dalam negeri.  Dan membuat peraturan agar semua konten pembelajaran di Indonesia menggunakan animasi dalam negeri. Sedangkan pelaku animasi harus bisa menghimpun roadmap misalnya membuat animasi seluruh cerita rakyat di Indonesia sehingga anak-anak Indonesia lebih merasakan bhineka tunggal ika.

Begitu juga saran Hari S Sungkari MIKTI, harus cerita peperangan sepereti perang di Ponogoro atau Padri itu bisa dijadikan animasi di Indonesia. Sehingga animasi di Indonesia tidak membosankan dan industri tertarik untuk membelinya. Sehingga animasi Malin Kundang lebih dikenal ketimbang Doraemon.