Teknopreneur.com –  Saat divonis menderita penyakit parah bukan berarti hidup harus berakhir. Hidup harus terus berjalan, masih banyak yang harus dikerjakan. Keterbatasan fisik bukan berarti membatasi jiwa untuk berkarya. Itulah motivasi, Dian Wahdhini Syarief penderita lupus, yang kini menjadi motivator bagi orang dengan penderita lupus (odapus).

Penglihatannya pernah hilang, hingga tinggal 5% namun ia tetap berjuang untuk memotivasi penderita lupus lainnya agar tidak menjadi manusia yang pesimis. Alumni ITB jurusan farmasi ini  bersama sang suami  Eko Priyo Pratomo membentuk sebuah komunitas bernama Syamsi Dhuha Foundation (SDF) yang mempunyai program kegiatan berkelanjutan yang mengedukasi publik mengenai penyakit lupus dan low vison.

Lupus sebenarnya penyakit yang  tidak menular dan tidak ditimbulkan oleh bakteri atau virus. Saat ini odapus jumlahnya sudah 5 juta di dunia sedangkan indonesia 400 ribu. Sejak ditemukannya hingga saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan penyakit ini.  Maka dari itu SDF mencari suplemen dari bahan alami untuk menyembuhkan penyakit yang sejak tahun 1950 belum ditemukan obatnya.

SDF pun menginisiasi riset bahan alam untuk menemukan suplemen therapy bagi penyandang Lupus. Saat ini ia sedang melakukan advokasi kebijakan untuk mengusulkan jalur obat murah dan memasukkan obat “Off-Label” Lupus dalam program Jamkesmas/BPJS. Dan memperjuangkan kebijakan kepada DPR dan pemerintah agar diberi kemudahan untuk mengakses pengobatan bagi penyandang Lupus. Tak hanya itu  SDF mempromosikan riset nasional bahan alam untuk terapi Lupus, bekerja sama dengan Sekolah Farmasi ITB dan fakultas Kedokteran UNPAD.

Dian Syarief yang menyandang Lupus cukup berat dan kehilangan penglihatan ini kini telah mendapatkan penghargaan misalnya International Lifetime Achievement Award, dari Committee the 9th International Congress on Lupus, Vancouver Canada, 2010, Danamon Award, 2010, Ganesha Widya Jasa Utama, Anugerah ITB untuk Pengembangan IPTEKS, 2012,Sasakawa Heath Prize 2012 dari World Health Organization (WHO), Pada WHO”s General Assembly (sidang Tahunan), Geneva, Swistzerland,  2012, Ashoka Fellow Changemaker 2012,Finalist Ernst and Young Social Entreprneur of the Year 2013,Tuppperware She Can Awards 2013, dan terakhir mendapat penghargaan perak Ganesha Innovation Championship Awards (GICA) 2014.

Menurut Bambang Harimurti, dewan juri GICA yang membedakan SDF dengan komunitas Lupus lainnya paradigma yang berbeda, mereka memandang bahwa Lupus bukan untuk ditakuti namun untuk ditemani dan memotivasi para odapus agar tetap berkarya seperti orang sehat lainnya.