Teknopreneur.com – Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini membuat media konvensional (cetak) semakin tergerus oleh kemunculan berbagai macam media online.  Media  cetak dinilai tidak lagi efektif, selain terbuat dari serat kayu  untuk kebutuhan pasokan kertas, hal itu apabila dilakukan terus menerus tentunya akan mengakibatkan pemanasan global.  Para pembaca pun  mulai malas membacanya dan berbondong – bondong beralih pada media Online atau digital.

Seperti yang dilansir pada halaman mashable.com Industri media cetak terus mengalami penurunan dari mulai sirkulasi sampai pendapatan terhadap iklan. Untuk mengatasinya ahirnya  membeli TV Lokal dan Media online untuk mempertahankan eksistensinya pada industri media. The New York Times sekarang memiliki lebih dari 760.000 pelanggan untuk paywall digital, saham naik lebih dari 78 persen pada  Februari 2013, Sampai akhir bulan Desember yang lalu mencapai angka tertinggi  dari lima tahun terahir.

Walaupun media cetak terus diupayakan untuk bisa mendapat hati para pembaca, tampaknya inventor tetap tidak terlalu tertarik untuk berinvestasi.  Sampai – sampai The Tribune Company dan News Corp memisahkan divisi televisi  dan divisi cetak dalam upaya untuk meningkatkan harga saham, dan membuat kinerja pasar perusahaan tidak tunduk pada penurunan surat kabar/koran  tersebut.

Untuk surat kabar/koran  masih dalam siklus berita harian, satu tren yang jelas: tidak ada perusahaan media cetak mengandalkan surat kabar tersebut, produk pendiri bagi banyak orang, untuk mendorong itu ke masa depan , yang artinya media cetak di era serba modern ini tidak bisa menjadi patokan utama untuk indutri media agar bisa bertahan di masa yang akan dating.

“Saya pikir apa yang tidak berubah adalah prospek jangka panjang untuk mencetak dan mencetak pendapatan, yang mungkin, bagi kebanyakan orang, terus menurun,” kata Bell, profesor Columbia.” Ada banyak kerapuhan dalam bisnis media, khususnya di koran dan surat kabar saham.