Teknopreneur.com – “Batik bukan hanya lukisan di selembar kain,” ujar Hokky Situngkir. Ada makna yang sebenarnya terlukis dalam batik itu. Jika orang tahu maka akan tinggi apresiasinya. Batik yang dilukis lewat peralatan sederhana itu sebenarnya berasal dari lukisan alam namun disampaikan dalam bentuk yang berbeda.  

Bermula dari rasa penasarannya mengapa di Indonesia tak ada lukisan perjamuan terakhir karya Leonardo da Vinci yang terdapat garis sejajar algoritma. Lukisan tersebut sangat teratur polanya. Sedangkan di Indonesia belum ia temukan. Akhirnya ia mencari tahu lewat batik-batik yang ada di nusantara, saat itu yang ada dipikirannya batik sama dengan lukisan. Namun sayang tak ada batik di Indonesia yang polanya teratur. Ribuan batik di Indonesia polanya memang tak teratur namun bukan berarti tak geometris. Ada kemiripan dalam masing-masing polanya. Memang tak sama ukurannya kiri dan kanan, namun secara struktural sama.

Pendiri Bandung Fe Institute tersebut kemudian mengumpulkan berbagai motif batik di Indonesia kemudian ia terjemahkan lewat rumus fraktal. Hasilnya ia modifikasikan lewat komputer sehingga menghasilkan pola baru yang beragam baik secara grafis, warna, ukuran, sudut maupun ulangannya. Kemudian ia menciptakan software batik fraktal.

Cara pembuatan batik praktal sama dengan batik pada umumnya  dengan menggunakan canting bedanya desainnya diatur menggunakan komputer. Tujuan pembuatan motif batik fraktal untuk memecahkan masalah keterbatasan desain motif batik. Sehingga menghasilkan banyak motif dengan cepat baik dengan teknologi yang sederhana maupun rumit.

Selain batik, alumni ITB jurusan Teknik Elektro angkatan 1996 ini juga bisa memecahkan rahasia lagu daerah, Candi Borobudur dan pergerakan saham dengan memakai teori kompleksitas. Kini, pria yang mendapat julukan sebagai Bapak Komplesitas ini sedang melakukan penelitian aspek arkeologi-astronomi situs purbakala Gunung Padang di Cianjur dengan teori kompleksitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hokky Situngkir adalah peneliti kompleksitas yang menerapkan penelitiannya dalam

bidang ekonomi, budaya dan teknologi informasi. Dalam 3 tahun terakhir, Hokky

Situngkir telah mendapatkan 7 penghargaan, untuk karya yang berbeda dari Business

Innovation Center bersama Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Produk-produk inovatif yang dihasilkan antara lain adalah:   

• Pohon Filomemetika Diversitas Artifak Budaya Indonesia   

• acroBatik: aplikasi batik fisika dan fashion 2.0   

• Generator Lagu dan Melodi Nusantara   

• Visualisasi Kartogram Indonesia   

• Piringan Kompleksitas Sosial   

• Sistem Informasi Desa Cerdas yang sesuai dengan karakteristik Indonesia,

berbasis teknologi cloud dan on-premise.   

• Aplikasi Semantik untuk Tata Bahasa Indonesia 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hokky Situngkir adalah peneliti kompleksitas yang menerapkan penelitiannya dalam

bidang ekonomi, budaya dan teknologi informasi. Dalam 3 tahun terakhir, Hokky

Situngkir telah mendapatkan 7 penghargaan, untuk karya yang berbeda dari Business

Innovation Center bersama Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Produk-produk inovatif yang dihasilkan antara lain adalah:   

• Pohon Filomemetika Diversitas Artifak Budaya Indonesia   

• acroBatik: aplikasi batik fisika dan fashion 2.0   

• Generator Lagu dan Melodi Nusantara   

• Visualisasi Kartogram Indonesia   

• Piringan Kompleksitas Sosial   

• Sistem Informasi Desa Cerdas yang sesuai dengan karakteristik Indonesia,

berbasis teknologi cloud dan on-premise.   

• Aplikasi Semantik untuk Tata Bahasa Indonesia