Teknopreneur.com – Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya.

Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kebudayaan daerah merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan yang lebih global, yang biasa kita sebut dengan kebudayaan nasional. Karena kebudayaan merupakan kekayaan serta ciri khas suatu daerah, maka menjaga, memelihara dan melestarikan budaya merupakan kewajiban dari setiap individu, dengan kata lain kebudayaan merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan oleh setiap suku bangsa. Kuatnya tradisi lisan di Indonesia menyebabkan bahasa daerah begitu penting dalam proses penggalian kembali nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam setiap tradisi dan kebudayaan.

Dari sinilah Helmy Firtiawan dosen Teknik Elektro Universitas Lampung mendesain aplikasi yang mampu membantu seseorang mempelajari aksara Lampung, yang merupakan salah satu kekayaan daerah. Idenya ini sebagai bentuk keprihatinan atas budaya Lampung yang mulai punah. Menurutnya kearifan lokal, budaya, dan aksara Lampung butuh perhatian. Ia bersama rekannya membuat aplikasi yang bekerja layaknya otak manusia. Aplikasi yang ia buat bernama Lampung Hand Writer Recognition.

Aplikasi ini berbasis jaringan syaraf tiruan yang bekerja untuk mengenali aksara Lampung. Jaringan syaraf tiruan ini bisa dilatih untuk mengenali sifat layaknya otak manusia, sehingga aplikasi ini dapat mengenali aksara berdasarkan tulisan tangan yang memilki karakter yang berbeda setiap orang, serta semakin banyak aksara yang dimasukkan ke dalam aplikasi ini, maka semakin banyak akasara yang dapat dikenali. Aplikasi ini juga tak berhenti pada pengenalan aksara Lampung namun  juga dapat menerjemahkan kata, karena aplikasi ini terhubung dengan data base kamus.

Menurutnya keunggulan aplikasi ini adalah alogaritma yang sudah maju. Sebetulnya alogaritma yang sejenis sudah banyak digunakan di negara lain seperti Jepang, Cina, dan India yang memilki karakter huruf yang cukup sulit, dan nantinya aplikasi ini akan berbasis mobile phone sehingga memudahkan para pengguna. Penelitian ini sudah dilakukan sejak tahun 2003 dan tahun ini merupakan generasi keempat dari penelitian tersebut yang dibantu juga oleh beberapa mahasiswanya. Tentu saja yang sangat menarik dari penelitian ini adalah karena berkaitan dengan konten budaya lokal. Melalui peranan teknologi dapat sangat membantu pembelajaran dan juga membantu mempertahankan kearifan lokal.