Teknopreneur.com – Indonesia butuh IT dalam pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu). Bayangkan saja dengan jutaan orang yang akan memilih jika tidak menggunakan IT. Akan ada banyak kesalahan terjadi. Hasil akhir Pemilu pun rentan salah.

Hari S. Noegroho, Wakil Ketua Ikatan Auditor Teknologi Indonesia (IATI) menyesalkan Indonesia  masih menganggap bahwa  perhitungan akurat menggunakan proses manual. Padahal proses manual sangat tidak auditable.

“Data di setiap TPS benar, yang salah adalah proses rekapitulasinya. Karena perhitungnya manual  angka 6 bisa dianggap 0,  7 dianggap 1,” terang Hari dalam diskusi Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII) ‘Mengintip Kerentanan IT Pemilu 2014’ di hotel JS Luwansa (6/3/2014).

Pakar Teknologi Informasi (TI), Prof. Richardus Eko Indrajit mengatakan mengapa Indonesia masih tertinggal dalam menggunakan IT dalam Pemilu  karena paradigma berfikir yang terbalik.

“Orang luar negeri sudah berfikir bagaimana mungkin Pemilu tidak menggunakan IT? Kita masih berfikir kok menggunakan IT.”

Eko menerangkan sebenarnya di Indonesia masalah penggunaan IT bukan terletak di teknis. Hanya saja pengetahuan masyarakat akan pentingnya teknologi masih kurang. Ia berpendapat jika ingin IT dipakai di Pemilu 2019 kuncinya ada dua yaitu leadership dan comunication. Karena masyarakat Indonesia masih berfikir perception is reality, bukan substansinya.

“Masyarakat masih melihat siapa yang berbicara,” ujarnya.