Teknopreneur.com – Sebagai negara maritim, tak sedikit masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai nelayan. Negara ini mempunyai pulau tak kurang dari 17.500 pulau dengan wilayah laut sekitar 5,8 juta kilometer. Dengan potensi alam tersebut, nelayan Indonesia harusnya mampu mendapatkan hasil tangkapan laut yang memadai.

Provinsi Lampung termasuk daerah yang berbatasan langsung dengan laut. Daerah pesisir Lampung yang cukup luas membuat masyarakat di sekitar pesisir memilih profesi sebagai nelayan. Namun, berbagai keterbatasan alat untuk menangkap ikan seringkali membuat nelayan tak banyak mendapatkan tangkapan.

Saat menangkap ikan pada malam hari, nelayan membutuhkan cahaya sebagai alat bantu. Biasanya mereka menggunakan puluhan lampu sorot atau atraktor. Lampu ini membutuhkan daya sebanyak 2000 sampai dengan 3000 watt yang diletakkan di sekeliling badan kapal ataupun bagan. Dengan adanya alat tersebut, nelayan akan lebih mudah saat menangkap ikan.

Namun, penggunaan  puluhan lampu atraktor membutuhkan ongkis yang luamyan mahal dan sangat boros. Harga bahan bakar minyak yang digunakan untuk menghidupkan lampu semakin lama semakin mahal. Belum lagi kelangkaan bahan bakar seringkali meyebabkan lampu tidak dapat dinyalakan. Kalau sudah begitu nelayan akan kesulitan menangkap ikan dan harus siap menanggung rugi.

Kondisi nelayan Indonesia yang butuh perhatian membuat bebarapa dosen Unila menciptakan lampu celup bawah air energi surya atau dikenal sebagai teknologi Lacuba. Sri Ratna Sulistiyanti, Muhamad Komarudin, Agus Trisanto, Arinal Hamnimerupakan keempat dosen yang merancang alat ini.

Seperti namanya, teknologi ini tak menggunakan bensin, namun memanfaatkan energi surya sebagai sumber tegangan listrik.  Alat ini dibuat untuk mengurangi biaya yang harus dikeluarkan nelayan untuk pembelian bensin. Dengan begitu, biaya operasional dapat ditekan dan pendapatan nelayan dapat meningkat.

Menariknya, setelah dilakukan uji coba penelitian, teknologi lampu celup bawah air ditaksir dapat menekan biaya operasional sebesar 23 juta rupiah setiap tahunnya.