Teknopreneur.com – Indonesia merupakan negara importir minyak. Setiap hari Indonesia harus mengimpor 500.000 bph untuk menutupi tingginya kebutuhan BBM. Padahal bahan bakar fosil diperkirakan hanya dapat bertahan untuk 12 tahun mendatang.  Hal ini mendorong pemerintah Indonesia untuk menghemat energi.  Pada saat yang sama Indonesia juga harus berusaha menurunkan ketergantungan pada bahan bakar minyak. Ketergantungan masyarakat kepada minyak merupakan beban APBN, karena adanya subsidi BBM.

Ir. Edi Wibowo, Kepala Subdit Keteknikan dan Lingkungan Bioenergi mengatakan subsisdi BBM masih diperlukan  tetapi harus diberikan kepada yang berhak. Sehingga sisanya bisa digunakan untuk membangun infrastruktur.“Selama ini energi terbarukan hanya dijadikan alternatif,” tutur Edi dalam acara Biogas Indonesia Forum 2014.

Edi mengatakan bahwa seharusnya energi terbarukan bukan hanya menjadi alternatif  tetapi merupakan prioritas untuk ditingkatkan perannya dalam bauran energi nasional. Ia berharap di tahun 2025 target peningkatan  energi baru terbarukan bisa naik 23% dari 17%. “Potensi total sawit untuk menjadi biodiesel sekitar 25 juta ton, biomassa 32 MW dari sawit, sampah kota di Indonesia,” tambah Edi.

Edi menyadari  ada beberapa kendala untuk mengatasi hal tersebut. Diantaranya masyarakat terlalu enak dengan bahan bakar energi fosil, karena subsidi yang murah. Sedangkan bila menggunakan biogas masyarakat harus ikut memelihara, juga mengerti sistem pembuatannya.