Teknopreneur.com – Energi Konvensional  selain harganya yang mahal, persediaan terbatas dan dampak terhadap lingkungan, hal itu yang membuat sebagian kalangan menilai bahwa energi ini tidak efektif untuk digunakan. Maka dari itu  Muncul lah energi – energi  alternatif baru, mungkin energi terbarukan yang satu ini masih menjadi perdebatan karna dibuat dari sebuah tanaman yang berstatus Ilegal. Ya apa lagi kalau bukan ganja. Padahal apabila dimanfaatkan ganja bisa menjadi energi alternatif penghasil Biomassa, atau biodiesel sekalipun

 Banyak yang mengira bahwa tanaman ini hanya sebatas tanaman yang bisa merusak mental para generasi penerus bangsa, pandangan buruk terhadap tanaman yang memiliki nama latin cannabis sativa/hamp ini dikarnakan hegemoni yang menempatkan tanaman ini sebagai salah satu dari jenis drugs/narkotika dan persaingan indutri.

Menurut UNODC (United Nation on Drug and Crimes) memposisikan Indonesia adalah salah satu negara penyuplai ganja terbesar di wilayah Asia Tenggara. Sementara wilayah Indonesia yang identik dengan tanaman ganja adalah Provinsi Aceh. Selain Thailand, diperkirakan Aceh memiliki ladang ganja terbesar di Asia Tenggara. Itu artinya Negara ini memiiki potensi untuk mengembangkan industry dari serat tanaman ganja.

Jack Harer dalam Bukunya “The Emperor Wears No Clothes.”  Biomassa dapat dikonversi menjadi metana, metanol, atau bensin yang biayanya jauh lebih kecil dibandingkan dari biaya saat ini untuk bahan bakar minyak, batu bara, atau energi nuklir. Batang hemp mengandung 80 persen hurd (hasil sisa pulp setelah serat hemp di produksi). Hemps hurds adalah 77 persen selulosa (bahan kimia primer untuk bahan baku industri) yang digunakan dalam produksi bahan kimia, plastik dan serat.

Satu hektar tanaman ganja dewasa dapat memberikan antara 50 sampai 100 kali selulosa yang biasa kita ditemukan di cornstalks, kenaf, atau gula tebu. Biomassa bahan bakar yang diturunkan tidak memberikan kontribusi terhadap pemanasan global karena siklus karbon dioksida tersebut, CO2 yang dilepaskan ke atmosfir selama pembakaran biomassa diimbangi oleh CO2 yang diambil dari atmosfer (melalui fotosintesis) oleh tanaman yang digunakan untuk membuat biomassa.