Teknopreneur.com : Lampung selain terkenal dengan hasil kebun coklat dan lada, juga menjadi provinsi produksi tanaman singkong. Secara umum, singkong-singkong tersebut diolah menjadi makanan ringan atau menjadi bahan baku pembuatan sagu.

Sementara itu, kulit singkong banyak dibuang karena dianggap tak memiliki manfaat bagi masyarakat. Pemanfaatannya hanya sebatas untuk pakan ternaksaja. Hal inilah yang kemudian memicu penelitian dosen Fakultas MIPA Universitas Lampung, Prof. Suharso dan rekannya Buhani. Dalam penelitian ini, mereka juga dibantu dua mahasiswanya, yaitu Septian Erisadewo dan Misbahudin Nur. Hampir tiga tahun penelitian ini dilakukan. Hasilnya kulit singkong mampu mengurangi kadar logam berat pada limbah industri.

Limbah singkong mampu dimanfaatkan. Kulit singkong ternyata dapat dimanfaatkan sebagai bahan yang mampu mengurangi kadar logam berat limbahindustriberbahaya yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan besar.

Logam berat yang dapat dikurangi seperti Timbal (Pb (II)), Tembaga (Cu (II)), dan Kadmium (Cd(I)). Ketiga senyawa ini disebut logam berbahaya karena hanya dengan konsentrasi yang kecil dapat bersifat racun bagi tubuh dan menyebabkan kematian.

Hasil penelitian ini dapat membantu perusahaan yang memproduksi limbah berupa logam berat. Perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan dan pengolahan bijih besi dapat melirik kulit singkong sebagai alternatif pengolahan limbah industrinya. Selain ramah lingkungan, kulit singkong juga lebih murah, mudah diperoleh, dan ramah lingkungan.