Teknopreneur.com – Industri-industri kecil pengkrajin genteng di daerah sepertinya musti melirik inovasi teknologi mesin cetak genteng Hidrolik agar dapat bersaing dengan industri-indusri besar yang menggunakan teknologi modern. Teknologi inovasi ini merupakan gabungan dari alat cetak genteng manual dan alat cetak genteng modern, yang bisa digunakan untuk membuat dua jenis genteng. Dengan bahan baku dari tanah liat biasa, atau dari bahan pasir dan semen, bisa juga untuk membuat paving block. Peningkatan produktivitas yang mencapai 150 persen tentu menjanjikan, jika dijalankan dengan baik, dalam hitungan kasar saja, dalam lima tahun saja para pengrajin genteng itu sudah bisa kembali modal.

Proses penerapan teknologi inovasi ini tidak jauh beda dengan tenaga hidrolik yang sudah ada. Langkah awalnya adalah persiapan bahan baku, dilakukan percampuran tanah liat, pasir, dan air dengan cara diinjak-injak atau menggunakan molen tanah. dalam hal ini kehomogenan campuran menentukan kualitas genteng. Selanjutnya tanah yang sudah diaduk dikeluarkan dengan cetakan ukuran 50mm x 150 mm.

Tanah liat yang dikeluarkan dari ekstruder dipotong-potong dengan panjang 200 mm sehingga menjadi bahan yang siap dicetak atau dinamakan kueh genteng, kemudian dianginkan agar menghasilkan bata yang keras. Tanah yang sudah diekstrusi dijaga kelembapannya sampai saat percetakan. Setelah didapat bata yang keras untuk dicetak, maka bata tersebut dilunakan dengan cara dipukul-pukul dan dicapuri dengan minyak bacin supaya hasil cetakan genteng bagus.

Kemudian dicetak dan diberi tekanan dan akan menjadi produk genteng yang mentah. Lalu diletakan pada tatakan kayu, dan dikeringkan. Setelah cukup keras, dibersihkan bagian-bagian kulit yang tidak sesuai dengan cetakan menggunakan pisau sisik, setelah benar-benar rapih, kemudian dijemur dibawah terik matahari hingga benar-benar kering.

Setelah cukup kering baru genteng dibakar dan diangini, penganginan ini agar genteng tidak pecah dan mempercepat pembakaran. Pembakaran dilakukan di tungku pembakaran yang terbuat dari semen. Tungku pembakaran ini dirancang menurut sistem tungku api turun (down draft klin) yang diberi cerobong disamping tungku. Genteng disusun rapih di tengah-tengah tungku pembakaran dengan jumlah sesuai dengan jumlah kapasitas muatnya. Setelah didiamkan kurang lebih setengah hari, maka genteng diambil dari tungku dan ditata agar genteng tetap utuh. Genteng kemudian diikat denga tali plastik (plastic strapping) dengan jumlah 10 buah perikat, pengikatan ini agar genteng terlihat rapih dan tidak mudah pecah saat ditumpuk. Kemudian genteng diletakan di tempat penyimpanan dan siap untuk dijual dan dipasarkan kepada konsumen.