Teknopreneur.com – Sebagai upaya untuk peningkatkan produksi pertanian, selain dengan perluasan lahan tanam, yaitu dengan cara pengelolaan budidaya yang baik dan tepat. Dalam proses budidaya tersebut pemupukan menjadi aspek yang sangat penting.  Untuk menunjang itu maka dibutuhkan teknologi yang canggih sehingga mampu menciptakan salah satu sarana produksi pertanian, yaitu pupuk kimia seperti Urea, TSP, NPK, dan lain-lain. Keberadaan pupuk kimia tersebut mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Namun akhir-akhir ini petani skala kecil mengalami kesulitan mendapatkan pupuk kimia tersebut di pasaran, kondisinya yang langka dan harga yang melambung tinggi menjadi alasan. Hal ini perlu segera disiasati dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia dengan menggunakan pupuk organik yang harganya lebih murah dan ramah lingkungan.

Pupuk Organonitrofos menjadi salah satu alternatif, pupuk ini dibuat dari 70-80 % kotoran Sapi segar dan 20-30 % fosfat, dengan penambahan mikroba Nfixer yang dapat mengikat lebih banyak nitrogen di udara dan mikroba pelarut P yang melarutkan fosfat. Selain itu fosfat yang digunakan merupakan limbah MSG yang memiliki kandungan fosfat 11%. Hal ini meminimalisir biaya produksi dan tentu dapat dijangkau kantung para petani.

Berdasarkan percobaan yang sudah dilakukan pada tanaman hortikultura, seperti tomat, cabai, dan jangung. Pengkombinasian antara pupuk kimia dan pupuk organonitrosfor menunjukan adanya peningkatan produksi tanaman, pada penggunaan pupuk kombinasi dengan komposisi pupuk organonitrosfor yang lebih banyak menunjukkan peningkatan hasil panen yang lebih baik secara kualitas dan kuantitas dibanding penggunaan pupuk kimia secara murni. Meskipun penggunaan pupuk organonotrosfor tidak serta merta mampu menggantikan kandungan unsur hara yang ada pada pupuk kimia, Penggunaan pupuk organonitrofos mampu mengurangi penggunaan dan menggantikan sebagian peran dari pupuk kimia.