Teknopreneur.com – Banjir seperti bencana yang sudah rutin terjadi.  Meski begitu baik pemerintah maupun masyarakat masih belum siap menghadapinya. Kerugian demi kerugian sering terjadi akibat bencana ini. Dari sanalah inspirasi Dyah Indriyana Kusumastuti muncul, ia membuat Automatic Water Level Recorder (AWLR), yakni alat yang berfungsi untuk mengetahui berapa debit air yang ada saat hujan turun terjadi.

Alat ini berbentuk tali yang panjangnya dua  meter pada ujung satu dipasang Logger dan yang ujung satu lagi diberi Chip. Logger berfungsi untuk mendeteksi volume saat terjadi hujan sedangkan Chip berfungsi untuk mencatat data yang dideteksi oleh Logger. AWLR dimasukkan ke dalam pipa berdiameter 2 inch dengan beberapa lubang keluar masuknya air ketika aliran air meninggi maka akan direspon oleh Logger dan memberi informasi kepada Chip.

Alat yang dibuat oleh dosen jurusan Teknik Sipil Unila menggunaka metode prakiraan  banjir dan sistem peringatan dini melalui Distributed Hydrology Model berbasis Sistem Informasi Geografis. Metode ini bisa memperkirakan apa yang akan terjadi apabila terjadi hujan turun, apakah akan terjadi banjir atau tidak.

Penelitian yang dilakukan oleh Dyah dan kawan-kawan ini didanai melalui program Penelitian Strategi Nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi. Dyah dan kawan-kawan melakukan penelitian ini dari awal sampai selesai memerlukan waktu 3 tahun.Tahun pertama fokus pada pengukuran dan Hidrologi Satuan Terukur (HST). Pengukuran dan pendataan dilakukan  untuk mengetahui berapa banyak volume air ketika hujan terjadi, apakah hujan berpotensi menyebabkan banjir atau tidak. 

Selain menggunakan Automatic Water Level Recorder (AWLR),alat lainnya yang dipakai adalah Automatic Rain Gauge (ARG) alat ini berfungsi untuk menghitung jumlah curah hujan dalam satuan waktu tertentu secara otomatis. Dengan AWLR dan ARG kita dapat mengetahui apakah akan terjadi hujan atau tidak pada saat hujan terjadi. Dari situlah kita bisa meminimalisir resiko untuk antisipasi banjir.

Di tahun kedua yang saat ini sedang dikerjakan penelitian berfokus pada Pengukuran Hidrologi Satuan Terukur (HST) dan Hidrologi Satuan Sintetis (HSS) yang menggunakan Sistem Informasi Geografis. Sistem ini  merupakan sistem informasi untuk memasukkan, menyimpan, memanggil kembali, mengolah, menganalisa, dan menghasilkan data yang mempunyai referensi geografis atau lazim disebut data geospatial, dari sistem ini juga kita dapat mengetahui karakteristik Sub-DAS-sub-DAS yang ada untuk mengetahui Hidrologi Satuan Sintetis (HSS).

Sedang data geospatial mendukung  pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota dan pelayanan umum lainnya. Dan  dilanjutkan pengukuran aliran sungai di tempat-tempat lain yang belum diukur. Di tahun ketiga tahap terakhir penelitian  fokus pada proses menghubungkan data yang ada di lapangan dengan teknologi informasi sehingga bisa menjadi sistem peringatan dini. Hingga kini metode dan alat pencegah banjir ini masih harus disempurnakan. Ia berharap dengan sempurnanya alat ini bisa mencegah musibah banjir yang datangnya selalu rutin.