Teknopreneur.com – Melakukan alih teknologi bukan sekedar mengambil teknologi dari pihak asing tapi mempelajarinya. Daripada Indonesia terus-terusan mengimpor, lebih baik kita melakukan alih teknologi. Menurut Hari, selama ini Indonesia terbuai dengan menual hasil bumi dan mineral tanpa memberikan nilai tambah. Dan yang terjadi sekarang,  Indonesia mengekspor minyak mentah lalu mengimpor BBM, Indonesia mengekspor kayu loggin lalu mengimpor furniture. Sebaiknya Indonesia mempelajari alih teknologi jadi bahan yang ekspor mempunyai nilai tambah.

Alih teknologi pun hingga sekarang belum diketahui seberapa besar pengaruhnya kata Tatang Taufik, Deputi Kepala Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi BPPT.  Namun ia pernah melakukan survei  pada tahun 2010, hasilnya baru sebagian kecil perusahaan yag melakukan alih teknologi jika dilihat dari kapasitas penelitiang dan pengembangan. Karena belum ada kebutuhan yang dirasa mendesak. Selain itu ada juga pengaruh intensif maksudnya untuk melakukan aktivitas litbang itu tidaklah murah.  Namun dari tahun ke tahun aktivitas alih teknologi mengalami peningkatannya. Indikasinya banyak produk yang berkembang karena aktivitas alih teknologi.

Alih teknologi pun pernah mengalami kegagalan jika kedua belah pihak tak berkomunikasi. Memang harus ada lembaga intermediasi untuk menjembatani. Banyak teknologi yang telah dikembangkan namun oleh calon pengguna malah disimpan. Karena alih teknologi itu harus tepat waktu, tepat sasaran dan tepat guna, tepat jumlah dan mekanismenya. Misalnya jumlahnya yang pas, waktunya yang tidak pas.