Teknopreneur.com – Permintaan akan produk pertanian terus meningkat namun tidak diimbangi dengan produk yang dihasilkan alhasil Indonesia harus impor produk pertanian. Perbanyakan bibit secara tepat dengan teknik kultur jaringan sangat menjanjikan untuk perbanyakan tanaman. Sehingga bisa meminamilisir kegiatan impor produk pertanian.

Kultur jaringan mengapa bisa disebut teknologi pertanian yang menjanjikanDengan menggunakan teknologi ini berarti kita juga bisa melestarikan tanaman –tanaman langka. Karena . Karena dengan metode ini maka kita dapat menghasilkan ratusan bahkan ribuan bibit pertanian hanya dari satu bagian tanaman, misalnya potongan daun, buku,pucuk tunas atau ujung akar.

 Jika induk yang akan dikulturkan bagus maka akan dihasilkan pula anakan yang bagus dan identik dengan ibunya. Berbeda dengan teknologi konvensional yang bibit yang dihasilkan bisa berbeda dengan induknya. Bibit hasil dari penanaman konvensional biasa ada yang terkena penyakit. Satu saja yang terjangkit penyakit maka bisa menular ke bibit lainnya.

Keadaan ini tentu berbeda dengan metode tanam dengan teknik kultur jaringan, karena media tanamannya aseptik dan aksenik atau bebas dari mikrorganisme yang  dikehendaki. Kondisi lingkungan juga terkendali otomatis tanaman yang diproduksi akan bebas hama penyakit.  Sehingga kerugian dalam memproduksi produk pertanian dapat diminimalisir.