Teknopreneur.com – Meski kicauan buku di dunia maya setiap hari ramai dan harga gadget

semakin murah namun jangan berpikir buku digitallah yang menang. Nyatanya buku konvensional masih jadi idola di pasaran. Andreas Harsono-seorang penulis, masih memilih buku cetak sebagai pilihannya. Biasanya Andreas dalam seminggu bisa menghabiskan uang sepuluh juta rupiah untuk membeli buku.

 

Buku-buku yang ia beli biasanya tak dijual di Indonesia maka ia pun memesan di toko buku Amazon untuk mengirimkan bukunya ke Jakarta. Namun sejak semakin mahalnya pajak Indonesia untuk pembelian buku cetak dari luar dan sedikitnya buku yang tersedia di Indonesia maka ia memilih buku digital sebagai  bahan bacaannya.

 

Menurut Rully Nashrullah penulis sekaligus pengoleksi ribuan e-book, buku digital harganya lebih

murah. Jika ia biasanya dengan uang empat puluh ribu rupiah hanya bisa menghasilkan satu buku.

Namun dengan buku digital bisa menghasilkan empat hingga lima buku digital. Dengan buku digital

Pun orang bisa mengoleksi hingga lima ribuan buku. Bayangkan jika buku itu disimpan dilemari, maka

tak muat.

 

Sayang infrastruktur di Indonesia masih belum maksimal sehingga sering sulit untuk mendownload buku dari toko buku online luar negeri Meski lambat laun perangkat untuk membaca buku digital

semakin murah. Namun masih ada romantisme dalam membaca buku cetak tak bisa dielakan. Buku cetak

bisa dicorat-coret, dilipat, hingga ditanda tangani penulis aslinya. Buku cetak pun bisa dibaca dimana saja tanpa memerlukan listrik.

 

Orang masih ingin membaca sambil tidur-tiduran, nongkrong atau manjat pohon. Sedangkan

buku digital tidak orang tak bisa berlama-lama membaca di depan layar. Perangkat digital juga

merepotkan butuh dicas ulang jika baterainya habis. Makanya saat ini masih banyak pembaca yang ingin

buku cetak. 

 

Bahkan ada juga orang yang memiliki penyakit untuk mengoleksi buku atau memajang bukunya. Jadi ia membuat lemari khusus atau perpustakaan untuk koleksi bukunya namun tak dia baca. Hanya untuk dipamerkan jika ada tamu yang datang ke rumahnya. Jika di buku digital kan tidak. Meskipun ia

mengoleksi banyak e-book, tak bisa ia pajang atau pamerkan seperti buku cetak. Jadi meskipun e-book

kini bertebaran buku konvensional masilah menjadi idola di pasaran.