Teknoprenerur.com – Disaat minimnya jumlah peneliti di Indonesia, secercah itu masih ada. Berbagai peneliti masih berharap bahwa kampus masih jadi pintu lahirnya para peneliti.  Tak hanya itu meski peneliti-peneliti di kampus usianya terbilang muda, mereka pun dijadikan patokan awal sebagai penyebar penelitian baru lewat kuliah kerja nyata (KKN) atau Kuliah Kerja Profesi (KKP).

Namun nyatanya di lapangan ilmu yang mereka peroleh di bangku kuliah ternyata berbeda dengan lapangan. Ditambah lagi jumlah mereka yang diterjunkan amat minim. Dr.Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr Dekan Fakultas Pertanian Intitut Pertanian Bogor mengatakan 600 mahasiswa IPB yang diterjunkan untuk KKP tak sebanding dengan yang dibutuhkan di lapangan. “Jadi pemerintah jangan hanya menjadikan kampus sebagai patokan,”katanya.

Kepala BPPT, Marzan Aziz Iskandar pun mengakui bahwa jumlah peneliti baru yang dihasilkan

oleh kampus belum bisa memenuhi jumlah yang dibutuhkan. Karena banyak peneliti yang lahir di tanah sendiri justru menyebrang keluar. Alasannya klise laboratorium tak memadai, penelitian tak dihargai lebih baik ke negeri tetangga yang penelitian mereka dihargai bahkan dibeli.

Tingkat kesejahteraan pun jauh berbeda, di negera seberang mereka dijamin kehidupannya. Sehingga banyak peneliti hebat yang lahir di negeri ini justru menyebrang ke luar negeri.

Tingkat kesejahteraan pun jauh berbeda, di negera seberang mereka dijamin kehidupannya. Sehingga banyak peneliti hebat yang lahir di negeri ini justru menyebrang ke luar negeri.