Teknopreneur.com – Indonesia pernah mengalami kelangkaan daging sapi sehingga harus melakukan impor besar-besaran. Kebutuhan daging sapi sekitar 367.000 ton tahun 2009 menjadi lebih dari 420.000 ton tahun 2014. Sedangkan peternak lokal hanya mampu memproduksi 292.000 ton per tahun. Sehingga wajar jika kita melakukan impor besar-besaran.

Maka itu Peneliti LIPI Syahruddin Said bekerjasama dengan PT Karya Anugerah Rumpin (KAR) menerapkan teknologi Inseminasi Buatan (IB) Sexing dan Embrio Transfer. Teknologi IB Sexing memanfaatkan sperma genetik dari satu ekor sapi pejantan unggulan. Sehingga normalnya satu ekor sapi jantan sekali ejakulasi hanya bisa membuahi satu ekor sapi betina namun dengan IB sexing yang membekukan sperma unggul sapi jantan bisa membuahi 500 ekor betina.

Sedangkan dengan teknologi Embrio Transfer dengan mengambil sel ovarium dari sapi betina unggul yang dapat diletakkan ke sapi betina lainnya. Dengat transfer 1 sel telur dari sapi betina unggul diambil ovariumnya dan dapat ditaruh di rahim 250 ekor sapi betina. Dengan teknik ini sifat sapi yang lahir akan mengikuti sang induk yang unggul. Misal sang induk berkulit putih maka anaknya akan berkulit putih juga. Dengan diterapkannya dua teknologi tersebut dalam satu tahun dapat diprediksi bisa menghasilkan 1.500 ekor lebih anak sapi.