Teknopreneur.com – Pengembangan budidaya udang sering mengalami permasalahan akibat pencemaran sedimen tambak dari sisa pakan. Pemberian pakan secara berlebihan membuat sisa pakan tersebut tersedimentasi di dasar tambak. Terkadang sedimen ini membuat kadar oksigen menjadi rendah sehingga udang menjadi rentan mati. Padahal jika dimanfaatkan dengan tepat, sedimen ini bisa memberikan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi para petambak. Inovasi yang dikembangkan oleh IPB ini mengembangkan sistem pengolahan limbah perikanan yang menghasilkan energi listrik melalui mekanisme Microbial Fuel Cell(MFC).

MFC adalah sistem bioelektrokimia yang mampu menghasilkan arus listrik dengan memanfaatkan interaksi bakteri yang ditemukan di alam, dalam hal ini di sedimen sisa pangan tambak udang. Hasil uji coba menunjukkan bahwa kandungan bahan organik sedimen akan menurun setelah 40 hari dan arus listrik dari proses MFC akan mencapai puncak produksi pada hari ke-24, yaitu sebesar ~161,99 mA/m2 dan tegangan sebesar ~0,39V. Inovasi ini mampu memberi nilai tambah untuk mengatasi limbah sedimen tambak udang.

Inovasi ini diklaim mampu memperbaiki kualitas air tambak hingga tidak terlalu terganggu dengan sedimen limbah pangan. Dengan demikian produktivitas tambak pasti akan meningkat. Dan yang pasti, baterai basah ini bisa digunakan untuk menghemat penggunaan daya listrik yang juga mengurangi anggaran para petambak untuk kebutuhan tersebut. Dan yang pasti ini solusi yang “terang” bagi para petambak menghadapi gelapnya persoalan sedimentasi.