Teknopreneur.com – Kendati tak pernah benar-benar sukses dalam gerakan mobil nasional. Namun kita masih bisa bangga dengan beberapa inovasi untuk mobil listrik. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta menjelaskan kalau mereka sudah mencoba untuk mengumpulkan ahli-ahli teknis, ahli terkait regulasi dan ahli yang berhubungan dengan industri.

“Kita tahu mobil listrik ini ramah lingkungan. Tidak mengeluarkan asap, karbondioksida dan karbon monoksida. Kita tahu kalau polusi udara saat ini banyak disebabkan karena polusi di sektor transportasi yang mempengaruhi kesehatan. Nah, dengan mobil listrik ongkos yang dikeluarkan untuk berobat bisa ditekan,” katanya.

Gusti berharap kalau mobil listrik buatan Indonesia dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Terlebih, pemerintah berambisi untuk memproduksi mobil listrik lokal di tahun 2017 mendatang.

“Mobil listrik sekarang yang coba dijalani level 7, kalau tidak ada masalah besar, minor-minor saja masuk ke level 8, yang bisa diproduksi massal itu level 9, nah itu lebih banyak persiapan untuk mencetak alatnya, kan kalau mau banyak kan harus buat alat cetak kan, sekarang masih manual,” ujar  Gusti.

Pencipta mobil listrik Ahmadi, Dasep Ahmadi mengatakan mobil listrik cukup irit dibawa dalam perjalanan. Dari hasil tes yang dicoba, mobil listrik setelah dikalkulasi dengan perbandingan harga BBM subsidi, hanya menghabiskan Rp 37.000 perjalanan dari Bandung ke Sukabumi.

“Biayanya Rp 37.000 Bandung – Sukabumi itu dan ini enggak ada polusi lagi. Kami berusaha siap dan didukung Kemenristek tahun ini tahun depan kami siapkan mobilnya (produksi),” ucap Dasep.

Selain Dasep, masih ada beberapa produsen mobil listrik lainnya di Indonesia. Sampai saat ini mereka masih berusaha mengembangkan inovasi mereka sehingga benar-benar siap untuk diproduksi massal.