Teknopreneur.com – Di tengah peliknya persoalan mahalnya harga kedelai, ternyata masih ada inovasi yang mampu menjawab hal tersebut. Mahalnya harga kedelai tentu saja dilatar belakangi semakin mahalnya harga kedelai impor. Sementara  kebutuhan kedelai semakin tahun semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Data Badan Pusat Statistik mencatat dalam kurun waktu lima tahun ke depan (2010-2014) kebutuhan kedelai setiap tahunnya ±2.300.000 ton biji kering, akan tetapi kemampuan produksi dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sebanyak 851.286 ton (ATAP Tahun 2011, BPS) atau 37,01 % dari kebutuhan sedangkan berdasarkan ARAM II tahun 2012 baru mencapai 783.158 ton atau 34,05 %.

Oleh sebab itu Budi Mixed Farming mengajukan usulan untuk membangun Seed Center di Grobogan dan daerah lainnya guna meningkatkan produktivitas benih kedelai dengan memanfaatkan inovasi mereka. Menurut BMF salah satu faktor yang menentukan tingkat hasil tanaman kedelai adalah benih yang varietasnya unggul. Benih yang unggul mencakup mutu genetisnya dan bisa dilihat dari varietas tertentu yang menunjukan identitas genetis dari tanaman induknya, mutu fisiologisnya atau kemampuan daya hidupnya,ukurannya yang homogen, bernas, bersih dari campuran daan bebas dari hama dan penyakit.

Teknologi BMF adalah seri produk yang dibuat untuk mendukung usaha pertanian dan peternakan (mixed farming) yang berkesinambungan, terutama untuk wilayah tropis seperti halnya Indonesia dan dalam cuaca ekstrim seperti akhir- akhir ini. Menurut Adi Widjaja, Direktur dari BMF, Untuk peternakan, teknologi ini lebih banyak berhubungan pada perbaikan kualitas pakan dan pemrosesan limbah. Pada pertanian mereka berfokus pada usaha optimalisasi tanaman subtropis yang ditanam di wilayah tropis. Dengan demikian selain menghasilkan bibit kedelai unggulan, BMF juga mensinergiskan pertanian dan peternakan sehingga keduanya bisa sangat berkembang.