Teknopreneur.com – Selain kebutuhan energi, kita juga harus memikirkan dampak terhadap lingkungan yang disebabkan oleh pemanfaatan energi fosil. Upaya pemerintah secara agresif mencari cara untuk mengeksploitasi dan memproduksi energi yang hemat dan efisien, dan sekaligus menekan emisi gas rumah kaca. Menurut data yang ada, MCT (Microturbine Cogeneration Technology) akan menurunkan emisi CO2 sebanyak 0,281 kg per kWh, se­hing­ga jika mesin diesel itu bekerja selama 8.640 jam pertahun berarti akan terkurangi emisi CO2 sebesar 4,9 juta kg per tahun.

Terkait kegiatan Microturbine Cogeneration Technology ini,  Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia telah berhasil mengembangkan teknologi mikroturbin kogenerasi dalam proyek Microturbine Cogeneration Technology Application Project (MCTAP). Teknologi ini sangat direkomendasikan karena mendorong pemanfaatan energi nasional dan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Menristek Gusti M. Hatta menyebutkan bahwa Microturbine Cogeneration ini  merupakan sebuah bukti nyata penerapan teknologi. “Kalau dulu memakai turbin energi yang efektif hanya 40persen, sisanya terbuang, dengan adanya alat ini dapat mengkombinasikan tenaga dan pemanas, sehingga efektifitasnya mencapai 80 persen. Hal ini pun mengurangi efek gas rumah kaca. Jadi BPPT saya kira telah memberikan sebuah solusi teknologi dalam hal efisiensi energi yang tetap memperdulikan aspek lingkungan,“ ungkap Menristek