Teknopreneur.com – Inovasi adalah kata kunci dalam dunia bisnis saat ini. Perusahaan Teknologi menginvestasikan bermilyar-milyar dalam membangun produk baru; Pebisnis melihat inovasi sebagai kunci menghadapai persaingan; Pemerintah memformulasikan kebijakan untuk membangun iklim inovasi. Walaupun demikian, industri mencatat bahwa tingkat keberhasilan suatu inovasi hanya 4 persen dari keseluruhan inovasi yang tercipta.

Inovasi bukanlah hanya terbatas pada invensi atau penemuan baru, kebijakan, atau manajerial suatu proses inovasi. Melainkan juga suatu keahlian atau skill yang dipelajari, dikembangkan dengan melewati suatu periode waktu, dan diimplementasikan dalam suatu organisasi, baik akademis, lembaga penelitian, maupun perusahaan. Inovasi juga melibatkan suatu proses dari penyebaran sebuah ide dan teknologi baru dalam sebuah kebudayaan. Inovasi merupakan ide, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh komunitas manusia atau masyarakat.

Sebuah inovasi terdifusi ke seluruh masyarakat dalam pola yang bisa diprediksi. Beberapa kelompok orang akan mengadopsi sebuah inovasi segera setelah mereka mendengar inovasi tersebut. Sedangkan umumnya masyarakat membutuhkan waktu lama untuk kemudian mengadopsi inovasi tersebut. Sederhananya, berapa banyak adopsi masyarakatlah ukuran kesuksesan sebuah inovasi. Maka kesuksesan inovasi sangat bergantung kepada kemampuan mengadopsi perubahan dalam masyarakat. Dalam konteks ini, terlihat mengapa banyak invensi yang gagal menjadi inovasi, dan sebaliknya, banyak inovasi yang tidak melibatkan invensi di dalamnya. Bahkan banyak inovator sukses bukanlah inventor dari produk yang dibawanya.

Inovasi adalah mengadopsi praksis baru dalam sebuah komunitas. Inovator adalah orang atau kelompok orang yang berada di tahapan awal dari pengadopsian suatu teknologi baru. Urutannya sebagai berikut:

1. Inovator: Adalah orang atau kelompok orang yang memutuskan dan siap untuk mencoba hal-hal baru. 2. Pengguna awal: Kelompok adopter seperti ini menghasilkan lebih banyak opini dibanding kategori lainnya, serta selalu mencari informasi tentang inovasi. 3. Mayoritas awal: Kategori pengadopsi ini adalah mereka yang tidak mau menjadi kelompok pertama yang mengadopsi sebuah inovasi dan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi. Namun kelompok ini menjalankan fungsi penting dalam melegitimasi sebuah inovasi, dan mengajak seluruh komunitasnya. 4. Mayoritas akhir: Kelompok yang ini lebih berhati-hati mengenai fungsi sebuah inovasi. Mereka menunggu hingga kebanyakan orang telah mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan menjadi pengguna. 5. Laggard: Kelompok ini merupakan orang yang terakhir melakukan adopsi inovasi.

Terlepas dari semua permasalahan tersebut, satu hal yang dapat dipastikan adlah: banyaknya inovasi yang terjadi dalam suatu komunitas masyarakat atau bangsa, sangat menentukan posisi bangsa tersebut di dunia. Kemampuan kompetitif sebuah industri dibandingkan industri sejenis di negara lain akan bergantung kepada seberapa adaptif mereka terhadap inovasi. Hal lain yang dapat dipastikan adalah: Kemampuan adopsi tersebut tidaklah tercipta dalam waktu singkat, melainkan dalam hitungan generasi, dan harus dimulai dari inovasi sistem pendidikan dasar sampai tinggi.