Teknopreneur.com – Software luar yang masuk ke Indonesia seharusnya dapat dijadikan “benchmark” untuk dijadikan inovasi bagi pelaku software di Indonesia sehingga kualitasnya semakin baik. Selain software – software luar yang masuk ke negara kita disatu sisi menjadi pressure bagi perkembangan software development disisi lain juga sebagai “Benchmark” serta  stimulus untuk meningkatkan gairah industry software development kita menjadi lebih inovatif lagi.

Regulasi pemerintah untuk dapat mengembangkan pertumbuhan own software diIndonesia juga perlu diperhatikan, misalnya dengan adanya insentif atau keringanan pajak, seperti yang dilakukan dibeberapa Negara seperti Malaysia atau China dimana mereka memberikan suatu stimulus berupa keringanan pajak untuk perusahaan2 yang mengembangkan aplikasi buatan sendiri dan industry kreatif lainnya.

Tak mudah bagi PT Astra Graphia Information Technology bertahan selama 30 tahun dimana software-software luar dengan mudah masuk ke Indonesia. Bermula di tahun 1983 bisnis dimulai sebagai  ekslusif distributor dari DEC (Digital Equipment Corporation), kemudian setelah beberapa lama menjadi distributor, akhirnya pada tahun 1993, melakukan joint venture dengan DEC dan membuat perusahaan baru bernama PT Digital Astra Nusantara (DAN). Pada tahun 1998 DEC dibeli oleh Compaq, sehingga PT DAN juga dijual kepada Compaq Indonesia dan merupakan Divisi IT dari PT Astra Graphia, Tbk, dan kami pun melakukan rebranding (visi baru, repositioning dan rebranding) menjadi Astra Graphia divisi Information Technology (AGiT) – tapi masih merupakan divisi IT di AG pada tahun 1999.

Tahun 2001 divisi IT ini dibeli oleh SCS Computer System Ltd Singapore dengan pembagian saham 51% SCS Singapore dan 49% PT Astra Graphia, Tbk. Kemudian dibeli kembali seluruh saham nya yang 51% oleh PT Astra Graphia, Tbk tahun 2008 sehingga menjadi anak perusahaan PT Astra Graphia, Tbk dengan nama PT Astra Graphia Information Technology.

Untuk bertahan seperti itu mereka harus melakukan riset pasar sehingga bisa mengetahui inovasi apa yang dibutuhkan dan dicari kebutuhan lokal Indonesia. Kini tingkat pertumbuhan (CAGR) 3 tahun terakhir adalah 18%,Pasar utama adalah local,Klien utama adalah swasta (80%) cara anda mempertahankan perusahaan dengan Memperbesar pendapatan yang bersifat recurring (dari bsnis manage service) dan juga melakukan inovasi, salah satunya memperkenalkan solusi buatan sendiri (own software).  Pada awalnya berupa divisi hanya sekitar 70 orang, sekarang sekitar 400permanen dan sisanya sekitar 600 orang kami kontrak untuk project yang ada. Tahun 2012 hampir mencapai Rp 1 triliun dengan laba kotor 13%