Teknopreneur.com – Menurut Ahli Gizi dari Institut Pertanian Bogor Prof Nuri Andarwulan, bahan pengawet adalah bahan yang  digunakan untuk memperpanjang masa simpan makanan yang mudah rusak.  Bahan ini dapat memperlambat proses kerusakan bahan pangan yang disebabkan oleh faktor biologi.  Penggunaan bahan pengawet harus tepat baik penggunaannya maupun dosisnya.

Bahan pengawet mungkin efektif untuk jenis makanan tertentu namun tak efektif untuk jenis makanan lain. Bahan pengawet yang biasanya digunakan adalah benzoat, propionat, nitrit, nitrat, sorbat, Chitosan dan sulfit. Bahan pengawet yang dilarang adalah formalin. Ia pun mengatakan bahwa memang perlu ada bahan pengawet alami lainnya pengganti bahan pengawet berbahaya yang sekarang masih beredar di pasar, dan mungkin Chitosan adalah solusi alternatifnya.

Sekertaris Eksekutif Southeast Asian Food and Agriculture Science and Technology Center ini pun menjelaskan formalin bukanlah untuk mengawetkan makanan melainkan pengawet mayat, desinfektan dan pembunuh hama.  Formalin merupakan pengawet terlarang yang paling banyak disalahgunakan untuk mengawetkan makanan.  Zat ini adalah racun yang berbahaya bagi tubuh manusia.  Jika terkandung dalam tubuh dalam jumlah tinggi maka akan bereaksi secara kimia dengan semua zat yang terdapat dalam sel, sehingga bisa menyebabkan kematian sel.

Sedangkan boraks digunakan untuk mematri logam, membunuh kecoa, dan pengawet kayu.  Boraks bersifat iritan berbahaya bagi sel-sel tubuh,susunan saraf pusat, ginjal dan hati.  Jika tertelan akan menimbulkan kerusakan saraf.  Kalau digunakan berulang-ulang akan tertimbun.  Asam boraks ini akan menyerang sistem saraf pusat dan menimbulkan gejala kerusakan seperti rasa mual, muntah, diare, kejang perut,iritasi kulit dan jaringan lemak, gangguan peredaran darah, kejang-kejang, koma, hingga kematian jika ada gangguan sistem sirkulasi darah.

 

Oleh sebab itu diperlukan inovasi baru untuk mengawetkan makanan misalnya saja chitosan. Chitosan merupakan pengawet makan yang berasal dari limbah ranjungan dan udang. Salah satu yang memanfaatkannya adalah  Darmawan pemilik perusahaan Biochitosan. Ia berpikir jika limbah diolah kembali maka akan dihasilkan produk yang memiliki nilai jual yang tinggi.  Ternyata benar limbah rajungan yang cukup banyak dan tak terolah kembali oleh perusahaan udang, ia olah menjadi Chitosan yang bisa ia ekspor ke Jepang dan Korea.

 

Permintaan pasar di luar negeri ternyata lebih menjanjilkan dibandingkan dengan Indonesia. Permintaan produk chitin dan chitosan di pasar internasional mencapai 100 ton per bulan. Pabrik di Indonesia baru mampu mengekspor chitosan :  2-3 ton per bulan. Di Indonesia permintaanya hanya sedikit kebanyakan untuk penelitian mahasiswa. Menurutnya orang Indonesia lebih menyukai yang instan, mereka lebih memilih bahan kimia yang hasilnya lebih cepat terlihat.