Teknopreneur.com – Gulma merupakan tanaman pengganggu tanaman yang kehadirannya tidak diinginkan karena selain menjadi dapat menghambat pertumbuhan tanaman juga bisa menurunkan kualitas dan hasil panen. Cara menghambat pertumbuhan gulma sebenarnya sudah ditemukan sejak lama yakni dengan menggunakan herbisida, namun sayang herbisida bisa mencemari lingkungan dan mengandung racun jika tanaman tersebut dikonsumsi. Pemakaian herbisida yang berlebihan juga membuat lahan pertanian menjadi gersang karena terlalu banyak mengandung bahan kimia.

Cara lain untuk mengatasi gulma adalah dengan menyianginya secara rutin. Namun sayang cara tersebut kurang efektif karena membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang banyak. Apalagi saat musim pengujan pertumbuhan gulma akan semakin cepat alhasil dalam lahan pertanian bukan tanaman budidaya yang tumbuh melainkan tanaman liar.

Untuk mengatasi masalah tersebut maka Prof Hasjim Bintoro bersama rekan sesama pengajar di Institut Pertanian Bogor menemukan herbisida organik pengusir gulma. Uniknya herbisida tersebut juga berasal dari campuran gulma yakni Ageratum conyzoides dan Tithonia diversifolia. Selain kedua gulma tersebut diperlukan pula limbah pertanian seperti ampas sagu dan pupuk kandang. Herbisida organik ini kemudian dicampur dengan pupuk kandang, cara ini ternyata efektif untuk menekan pertumbuhan gulma lebih dari 50% sekaligus berfungsi sebagai kompos untuk menyuburkan tanaman dan tidak meninggalkan racun yang berbahaya.

Pengendalian dengan herbisida berbahan baku gulma ini juga ternyata efektif untuk menyuburkan tanah dan melestarikan lingkungan. Selain itu bahan baku membuat herbisida ini relatif murah karena bahan bakunya bisa ditemukan di hampir semua tempat.