Teknopreneur.com – Pestisida merupakan bahan kimia yang berfungsi untuk membasmi hama tanaman karena bersifat racun. Penggunaannya pestisida yang tidak bijaksana justru akan memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Penggunaan pestisida yang berlebihan juga bisa mengakibatkan meningkatnya jumlah populaso hama penyakit tanaman.

Selain itu pestisida juga berdampak pada kesehatan. Bahan aktifnya berupa asefat beresiko menyebabkan kanker, mutasi gen, kelainan alat reproduksi. Aldikard sangat beracun pada dosis rendah. BHC beresiko menyebabkan kanker, beracun pada alat reproduksi. Kaptan beresiko menyebabkan kanker, mutasi gen. Karbiral beresiko menyebabkan mutasi gen, kerusakan ginjal.

Klorobensilat beresiko menyebabkan kanker, mutasi gen, keracunan alat reproduksi. Klorotalonil beresiko menyebabkan kanker, keracunan alat reproduksi. Klorprofam beresiko menyebabkan kanker, mutasi gen, pengaruh kronis. Siheksatin beresiko menyebabkan Karsinogen. DDT beresiko menyebabkan Cacat lahir, pengaruh kronis.

Untuk mengatasi hal tersebut Dr Ir Lisdar I Sudirman menemukan komposisi dan aplikasi biopestisida sebagai pengganti pestisida kimia. Biopestisida tersebut berasal dari ekstrak miselium Lentinus isolat LC4 yang memiliki kandungan senyawa aktif yang sangat kuat dalam menghambat perkembangan beberapa patogen tanaman. Patogen penyebab diare pada manusia, Eschericihia coli   juga bisa dihambat oleh biopestisida ini.

Jamur biopestisida dapat digunakan langsung di lapangan untuk mengendalikan patogen penyakit akar putih bahkan dapat memusnahkan kayu sebagai sumber infeksi. Selain itu pestisida alami ini juga bisa menghasilkan berbagai macam metabolit yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan dan industri. Bahan bakunya juga relatif lebih murah dan alami sehingga aman bagi lingkungan. Proses produksinya juga sederhana dengan alat yang tersedia di pasaran.  Biopestisida berspektrum luas baik untuk bakteri maupun patogen tanaman sehingga mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi.