Indonesia harus mulai berpikir mendesain sendiri model techno park yang sesuai. Upaya menduplikasi techno park dari luar tidak akan maksimal disini, sebab karakter pebisnis dan pola-pola industri yang berbeda. Apalagi jika ingin menduplikasi Silicon Valley yang nota bene tercipta secara generik di awal pertumbuhan industri. Techno park Indonesia harus diciptakan dengan citarasa Indonesia, walaupun fungsi dan manfaatnya tetap sama.

Teknopreneur.com – Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 merupakan salah satu pedoman yang digunakan oleh pemerintah dalam membuat perencanaan pembangunan ekonomi. Dengan MP3EI, diharapkan terjadi pertumbuhan sektor riil demi menopang pertumbuhan ekonomi nasional sampai 6,4-7,5 persen pada periode 2011-2014, dan diproyeksikan mencapai 8,0-9,0 persen pada periode 2015-2025. Kenaikan yang ditumpukan pada sektor riil, ketimbang konsumsi domestik, adalah syarat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Upaya pencapaian visi MP3EI 2025 tersebut dituangkan dalam tiga misi utama, yaitu: 1. Peningkatan nilai tambah dan perluasan rantai nilai proses produksi serta distribusi dari pengelolaan aset dan akses potensi Sumber Daya Alam, geografis wilayah, dan SDM, melalui penciptaan kegiatan ekonomi yang terintegrasi dan sinergis di dalam maupun antar-kawasan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, 2. Mendorong terwujudnya peningkatan efisiensi produksi dan pemasaran serta integrasi pasar domestik dalam rangka penguatan daya saing dan daya tahan perekonomian nasional dan 3. Mendorong penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi, proses, maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan, menuju innovation-driven economy.

Paradigma pembangunan ini didasarkan pada kemampuan suatu bangsa dalam meningkatkan daya saingnya, dimana pilar yang amat penting dalam kemampuan daya saing adalah tenaga kerja dan iptek. Untuk itu MP3EI menyusun tiga pilar sebagai penopang kerangka kerja yang terdiri atas; 1. Pengembangan potensi ekonomi melalui koridor ekonomi, 2. Penguatan konektivitas nasional, 3. Penguatan kemampuan SDM dan Iptek nasional.

Pilar ketiga menjelaskan bahwa dukungan SDM dan Iptek diyakini sebagai prasyarat pembangunan ekonomi yang berbasis pengetahuan. Model Sistem Inovasi Nasional yang merupakan kerangka tempat tumbuh dan berkembangnya inovasi, adalah model yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah. Khususnya untuk mengembangkan inovasi sesuai dengan potensi di tiap daerah. Jika model ini berjalan dengan optimal, manfaat inovasi teknologi tersebut dapat dimaksimalkan secara merata di masyarakat luas.

Sistem Inovasi Nasional perlu didukung oleh suatu model pengembangan kawasan berbasis teknologi, yaitu kawasan berdimensi pembangunan ekonomi dengan sentra IPTEK yang mendukung percepatan perkembangan inovasi. Kawasan berbasis teknologi atau biasa disebut techno park ini ditargetkan untuk mampu menjadi pusat sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan di sekitarnya, serta menigkatkan daya saing di dalam dan luar negeri. Kemampuan bersaing ini lahir melalui pengembangan produk unggulan yang kompetitif di pasar domestik maupun global, yang didukung sumber daya manusia (SDM) unggul, riset dan teknologi, informasi, serta keunggulan pemasaran.

Inisiasi Pemerintah untuk mendorong dan mendukung penciptaan dan penguatan techno park di daerah-daerah dengan berbasis produk unggulan tiap daerah harus segera digulirkan. Konsep techno park ini antara lain meningkatkan daya saing bisnis perusahaan lokal dengan menggunakan fasilitas kampus untuk melakukan R&D. Banyak perusahaan lokal yang tidak mampu melakukan R&D sendiri karena keterbatasan dana, SDM, dan peralatan. Perguruan tinggi biasanya memiliki SDM dan peralatan. Masalah dana bisa ditanggung bersama-sama oleh beberapa perusahaan dan/atau oleh pemerintah.

Techno park juga berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan dan mengkomersialisasikan ide-ide kreatif atau invensi yang diperoleh dari penelitian. Hal ini juga dapat dimanfaatkan perguruan tinggi untuk mendapatkan keuntungan finansial dari riset yang telah dikembangkannya. Selain itu, techno park juga berfungsi sebagai inkubator bisnis bagi perusahaan pemula yang bermuatan teknologi. Dalam fungsi ini, techno park dapat digunakan sebagai laboratorium oleh mahasiswa dan peneliti perguruan tinggi. 


Masih banyak lagi fungsi dan manfaat techno park bagi kepentingan ekonomi makro. Beberapa inisiasi yang ada saat ini sudah cukup baik, hanya saja, Indonesia harus mulai berpikir mendesain sendiri model techno park yang sesuai. Upaya menduplikasi techno park dari luar tidak akan maksimal disini, sebab karakter pebisnis dan pola-pola industri yang berbeda. Apalagi jika ingin menduplikasi Silicon Valley yang nota bene tercipta secara generik di awal pertumbuhan industri. Techno park Indonesia harus diciptakan dengan citarasa Indonesia, walaupun fungsi dan manfaatnya tetap sama.