Teknopreneur.com – Sejak revolusi hijau dikemumandangkan, pupuk organik bak dianaktirikan. Berbeda dengan dengan pupuk anorganik yang menjadi primardona. Namun lambat laun, pemakaian pupuk anorganik yang berlebihan menimbulkan dampak pencemaran lingkungan. Sebagai contoh penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan bisa meningkatkan kadar asam tanah sehingga bisa menurunkan kesuburan tanah.

Selain itu pupuk anorganik mengandung nitrogen dan posfat yang berlebihan juga bisa menyebabkan eutrofikasi. Eutrofikasi juga bisa menyebabkan ketidakseimbangan pada lingkungan akuatik, karena bisa menyebabkan meningkatkan pertumbuhan ganggang air sehingga dapat menimbulkan kadar oksigen pada air. Sehingga bisa menimbulkan kematian fauna air. Penggunaan pupuk organik yang mengandung bahan kimia seperti metana, nitrogen, karbonidioksida dan amonia dapat menimbulkan pemanasan global dan perubahan pada cuaca.

Oleh sebab itu dibutuhkan suatu inovasi untuk meminamilisir penggunaan pupuk anorganik. Pupuk alami atau pupuk dari dedaunan ataupun kotoran hewan dinilai petani lambat untuk meningkatkan hasil pertanian. Pembuatan yang tak simple pun membuat sebagian petani lebih memilih menggunakan pupuk anorganik yang dinilai simple dan efeknya bisa dilihat tak lama setelah diaplikasikan.

Salah satu cara mengurangi hal tersebut Ir Noor Faiqoh Mardatin bersama dengan Dr Yadi Setiadi Msc membuat pupuk hayati ‘new mycofer’ yang dikembangkan melalui pengembangan bioteknologi pupuk.Mereka berdua menilai Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayati termasuk mikroba dari kelompok bakteri dan fungi,pupuk ini terbuat dari mikoriza arbuskula. Yang bisa meningkatkan kualitas tanaman terutama tanaman perkebunan dan kehutanan, Penggunaan pupuk ini jika digunakan bersamaan dengan pupuk organik dapat mensubsitusikan dan mengurangi penggunaan pupuk NPK sintetik. Saat ini ‘new Mycofer mulai dikembangkan untjk membantu program revegetasi dan fitoremediasi lahan pasca tambang.

Jika dilihat perspektif secara bisnis pupuk ini merupakan solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik, apalagi pupuk anorganik sering mengalami kelangkaan.  Bahan baku pembuatan pupuk ini juga mudah ditemui dan mudah dalam pembuatannya, Selain itu penggunaan pupuk ini juga dapat memperbaiki kesehatan tanah dan kondisi klimat tanah. Pupuk ini juga  ternyata terbukti efektif digunakan pada upaya perbaikan tanah pasca tambang yang akan digunakan sebagai lahan perkebunan maupun reboisasi hutan.