Teknopreneur.com – Warna merupakan daya tarik dalam memilih barang apalagi makanan. Warna yang mencolok biasanya lebih dipikat oleh konsumen terutama anak-anak. Dewasa ini tak sedikit pedagang makanan yang sembarangan menggunakan bahan pewarna untuk makanan yang dijajakannya, tak tanggung-tanggung pewarna tekstil seperti rodamin B menjadi pewarna yang digunakannya. Sudah marak pemberitaan di media namun ternyata tak memudarkan para konsumen untuk membelinya. Alasannya klise makanan yang dijajakan di pinggir jalan lebih murah dibandingkan dengan makanan yang dijajakan direstoran. Jika dihitung-hitung harganya bisa dua hingga tiga kali lipat jadi tak salah jika konsumen lebih tertarik jajan di jalanan. Selain murah juga meriah.

Dari segi kesehatan pewarna makanan seperti rodamin B memang tak menimbulkan efek langsung ketika dimakan, namun efeknya akan terlihat dalam jangka panjang. Misalnya saja penggunaan rhodamin B yang bisa menyebabkan nekrosis atau pengerasan sel hati atau nekrosis dan jaringan sekitar nekrosis mengalami disintegrasi. Selain itu konsumsi pewarna yang biasa digunakan pada industri tekstil dan kertas, sebagai pewarna kain, kosmetika, dan sabun ini bisa menyebabkan penyakit kanker bahkan kematian. Pewarna ini juga sudah dilarang dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 722/MenKes/Per/VI/88 mengenai bahan tambahan makanan dan Menteri Kesehatan RI Nomor 239/MenKes/Per/V/85 mengenai zat warna tertentu yang dilarang digunakan dalam pangan namun masih beredar dipasaran karena harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan pewarna alami makan.

Theovanny Silaban bersama ke empat temannya di Institut Pertanian Bogor akhirnya menemukan pewarna makanan yang murah, alami dan tidak berbahaya bagi kesehatan konsumen Nanoenkapsulat pigmen karatenoid. Jika dibandingkan dengan bahan pewarna makanan ini lebih murah karena berasal dari limbah kelapa sawit.

Serat ini  juga menjadi byproduct pabrik kelapa sawit yang mengandung karotenoid yang bisa diolah menjadi pewarna makanan yang aman dikonsumsi. Selain itu bahan pewarna ini juga mengandung bahan penyalut berupa kitosan yang dapat melindungi dan memperpanjang shelf life karoten yang mudah rusak karena suhu, intesitas cahaya yang tinggi dan oksidasi.

Pewarna ini juga mengandung provitamin A dan E yang mudah diserap tubuh. Umurnya simpan juga lebih lama karena dilapisi oleh kitosan, selain itu dengan mengolah limbah sawit menjadi pewarna juga bisa memberikan nilai tambah serat kelapa sawit. Limbah ini juga mudah diaplikasikan dalam industri pangan karena dalam bentuk serbuk.