Teknopreneur.com – Direktur Eksekutif MIKTI, M. Andy Zaky mengatakan tingkat pertumbuhan industri kreatif digital di Jakarta ternyata lebih banyak berada di kawasan Jakarta Selatan. Sedangkan untuk Jakarta Pusat dan Timur menunjukan angka yang seimbang. Kota yang paling sedikit kawasan industri kreatifnya adalah Jakarta Utara, yang notabennya memang daerah perairan mungkin tidak cocok untuk perkembangan industri kreatif disana.

Hal tersebut tergambar dari sebaran empat industri digital yang ada di Jakarta yaitu industri software,animasi, software edukasi dan games. Pada Industri Software, dari total 100 industri software yang ada 42 industri software ada di Jakarta sedangkan di Jakarta Timur hampir seimbang dengan angka 21 dan 23 industri. Di Jakarta Timur ada 9 industri sedangkan kawasan utara hanya 5 industri software. Untuk industri animasi pun serupa di Jakarta Selatan ada 9 industri, sedangkan Jakarta Pusat dan Timur 8 dan 5 industri. Untuk kawasan timur Jakarta hanya terdapat 2 industri. Bahkan di Jakarta Utara sama sekali tak ada industri.

Berbeda dengan industri software dan animasi, pada industri games kawasan yang paling banyak berkembangnya adalah Jakarta Pusat. Kawasan kedua adalah Jakarta Selatan dengan total 5 industri software. Untuk kawasan timur dan barat angka yang didapat seimbang yaitu dua industri. Dan sama dengan industri animasi tak ada industri animasi yang berkembang di Jakarta Utara. Sama seperti industri games, Jakarta Pusat menjadi ladangnya para industri software edukasi. Kawasan berikutnya adalah utara dengan total 3 perusahaan. Dan kawasan lainnya sebarannya merata yaitu dua industri.

Dari data diatas bisa dinilai bahwa industri di Indonesia memang mengalami pertumbuhan kearah maju. Hal tersebut disampaikan oleh Dien Wong Direktur Altermyth Studio, sehingga bisa dibilang kita tak perlu repot ke negara orang untuk mencari uang. “Jakarta itu besar tak perlu ke luar negeri untuk mencari uang. Karena dari segi market  Indonesia itu banyak peluangnya,”ujar game developer ini.

Berbeda pada tahun 1999, amat jarang sekali lowongan untuk developer game di Jakarta. Industri game saat itu belum ada. Namun industri luar negeri saat itu sudah masuk meski bukan di Jakarta namun di daerah Cikupa Tanggerang. Dan kini berbeda, industri game sudah mulai diakui keberadaan di Indonesia. Karyanya pun sudah digunakan oleh berbagai negara dunia. Untuk orang Indonesia tak perlu susah-susah ke negara orang untuk berkarya karena berkarya itu bisa dimana saja.

Diyanto Imam Direktur Eksekutif Inotek pun mengakui pertumbuhan industri kreatif digital yang tahun ini mengalami peningkatan. Namun tak banyak industri yang bisa bertahan hingga menjadi besar. Jadi industri yang tumbuh itu digambarkan dengan banyaknya industri yang hidup kemudian mati dan muncul kembali industri-industri baru yang tak tahu nasibnya akan kah menjadi besar atau ikutan menghilang. Maka menurutnya diperlukan sebuah wadah semacam inkubator untuk menjadi perantara atau fasilitator apa yang dibutuhkan para pelaku industri agar bisa berkembang bukan menghilang. Karena untuk

Menurut Marlin Sugama tak hanya inkubator Indonesia membutuhkan suatu wadah berkumpul secara informal yang akan mempertemukan antara pemerintah, industri, akademisi untuk menyatukan ide apakah yang dibutuhkan untuk memajukan industri digital kreatif yang ada di Indonesia.