Teknopreneur.com – Dalam FGD Pengembangan Industri Kreatif Digital yang berlangsung Selasa kemarin (19/11) muncul mosi atas kebutuhan adanya tempat (kluster) yang representatif untuk berkumpul dan bertemunya para pelaku industri kreatif digital di Jakarta. Mungkinkah Pemprov DKI menyediakan ?

“Saya kira yang menjadi kebutuhan utama kita selain akses modal dan regulasi, salah satunya adalah belum adanya tempat khusus di Jakarta. Di tempat itu nantinya diharapkan bisa bertemu para pelaku industri kreatif digital, mulai dari pemain, angel investor, komunitas hingga konsumen. Pemerintah DKI bisa tidak sediakan itu?” ujar Rama Manusama, founder Wikasa sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kreatif digital edukasi.

“Pemerintah harus mau merangkul komunitas-komunitas kreatif di Jakarta dengan memanfaatkan gedung-gedung yang tidak terpakai menjadi area publik terutama didalam aktifitas kreatif.” Ujar Rama.

Acara yang menghadirkan M Andy Zaky (MIKTI), Wong Lok Dien (pendiri Altermyth game studio) dan Diyanto Imam (Yayasan Inotek) ini berlangsung sejak pukul 13.00 wib sampai pukul 16.00 wib. Dalam acara yang di inisiasi oleh MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia) dan Dinas parekraf DKI Jakarta ini sejumlah praktisi, pengusaha dan tenaga pendidik bidang industri kreatif setingkat SMK dan Universitas turut hadir dalam acara tersebut, memaparkan tentang persoalan yang seringkali dihadapi oleh sekolah dan siswanya.

“Apakah tempat bertemu informal itu penting? Saya kira, kalau belajar dari tempat lain mereka -pelaku industri kreatif digital- awalnya tidak memiliki inkubator tapi mereka memiliki tempat bertemu dan mereka bisa mendorong satu gerakan yang dihasilkan dari critical mass.” ujar Diyanto Imam, Direktur Eksekutif Yayasan Inotek.

“Lalu di Jakarta ini yang sudah ada apa? Kalau sudah ada silahkan kembangkan lebih lanjut, lalu tinjau bagaimana hasilnya. Kalau belum, ya dikembangkan lagi. Sampai sekarang saja, belum ada peraturan yang jelas untuk tumbuh venture capital di Indonesia karena tidak ada payung hukum dimana kita bisa melakukan bisnis secara profesional. Di Jakarta idealnya ini apa? Kalau masih setengah-setengah, ya bagaimana caranya agar yang setengah tadi bisa full. ” tambah Imam.

Dalam acara tersebut, akhirnya tercapai satu kesimpulan bahwa masih banyak perbaikan disana-sini dalam hal memajukan industri kreatif digital di Jakarta. Dengan adanya potensi pelaku industri yang cukup memadai, investor dan lembaga pendidikan yang tengah berkembang, dirasakan belum dapat dioptimalkan selama regulasi dan lokasi bisnis belum tersedia.